Karier versus Jabatan

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

“Wah, keren, dia sekarang sudah jadi manajer.” Begitu terkadang kita mendengar celoteh orang mengenai kesuksesan, terutama di kalangan generasi lawas. Selain itu, di tempat lain, ada kandidat yang urung menerima tawaran sebuah pekerjaan karena bukan berada pada posisi manajerial meski ia sendiri sebenarnya tertarik pada tantangan yang diberikan dan sadar bias belajar banyak hal di sana.

Di sisi lain, perusahaan menyadari banyaknya orang yang mengejar “judul” jabatan sehingga mereka pun memberikan jabatan manajer dan direktur yang cukup banyak di perusahaan. Tanpa peduli apakah pemangku jabatan tersebut memang benar-benar bertanggung jawab dalam mengarahkan departemennya untuk berkembang atau tidak. Yang penting orang bangga dengan jabatannya.

Banyak orang terjebak pada paradigma jabatan ini. Kita sering sekali mengaitkan jabatan dengan uang, kekuasaan, dan posisi. Orang sering menyebutnya sebagai climbing the corporate ladder.

Tak jarang kita melihat seorang direktur, bahkan menteri sekalipun yang ketika lengser dari jabatannya merasa gamang, tidak tahu ke mana akan mengarahkan kariernya. Sampai-sampai hilang arah dan sulit meniti kembali kariernya justru karena tingginya posisi yang sudah pernah diemban. 

Alhasil, jabatan yang diemban seolah menjadi seperti beban atau malahan tidak berarti dalam karier individu. Ini sesungguhnya sangat berbahaya.

Jadi, apa beda jabatan dan karier? Bagaimana agar kedua hal tersebut dapat berjalan sinkron?

Karier versus jabatan

Perbedaan utama antara karier versus jabatan adalah bahwa jabatan lebih kuat berkonotasi dengan uang, kekuasaan atau fasilitas; sementara karier lebih berlandaskan suatu tujuan jangka panjang, yang kita tuju dan garap dalam keseharian kita.

Fokus pada jabatan menjadikan kita melakukan hitung-hitungan, sementara fokus pada karier memberi kita semangat untuk selalu belajar dan menambah keterampilan, lepas dari apa pun jabatan kita.

Dengan berkembangnya teknologi, berevolusinya industri, dan adanya disrupsi, banyak jabatan mengalami goncangan. Orang yang berfokus pada karier akan segera menelaah keterampilan apa yang ia miliki dan apa yang harus ia kembangkan dan pelajari lebih lanjut untuk dapat mengikuti perubahan tuntutan zaman.

Dengan kejelasan karier dan kemajuannya, upah atau gaji akan sekedar menjadi konsekuensi saja. Karena yang lebih penting dan membuat kita bersemangat adalah nilai kontribusi yang bisa kita buat. Banyak hal yang dapat kita petik sebagai pembelajaran dalam apa pun pekerjaan kita. Bekerja sebagai petugas customer service kita belajar menangani keluhan pelanggan, sebagai resepsionis kita belajar bagaimana bertutur kata dan membuat orang baru merasa nyaman.

Karier bisa ditata individu sesuai dengan passion-nya. Bisa saja ia berpendidikan akuntansi tetapi ternyata lebih tertarik pada analisa data, sehingga kemudian mengarahkan kariernya menjadi data analyst. Karier membuat kita tertantang setiap harinya, mendorong kita berlomba dengan diri sendiri untuk membuat pekerjaan menjadi lebih berarti.

Memanfaatkan jabatan demi karier

Dengan menduduki suatu posisi jabatan, kita memang memiliki kesempatan untuk melakukan networking. Kita dapat berkenalan dan berhubungan dengan orang-orang di luar divisi kita, juga dengan anggota stakeholder lainnya. Semua ini bisa saja menunjang karier kita.

Kita juga perlu memanfaatkan kesempatan untuk berhubungan dengan orang yang lebih senior dan bisa kita jadikan mentor. Beruntung bila kita bisa mendapatkan mentor yang jalur kariernya tidak konservatif dan monoton.

Perlindungan POCO M6 Pro Nggak Kalah Ekstrem dari Performa dan Harganya

Ada satu hal yang sering dilupakan waktu seseorang ingin membeli hape, yaitu after sales...

Wibawa Pemimpin

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Pada masa pemilihan pemimpin ini, publik sibuk membahas beragam...

Penasaran Wangi Naga? Ini Dia Parfum Terbaru dari HINT

Ariadne Prawita, Fragrance Specialist HINT dan Endryko Karmadi, Creative Director HINT meyakini bahwa HINT...

- A word from our sponsor -