Paradoks Kekuasaan

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Menyaksikan permainan kekuasaan yang semakin mencolok, kita teringat pada sebuah eksperimen kontroversial yang dilakukan Universitas Stanford. Eksperimen ini harus dihentikan setelah 6 hari dari rencana 2 minggu pelaksanaan karena mengakibatkan guncangan mental yang hebat kepada para pesertanya.

Para sukarelawan yang terdiri atas mahasiswa ini telah diperiksa secara fisik dan psikologis sebelum mereka menjalani simulasi dan dipastikan sehat. Setengah dari sukarelawan secara acak dipilih dan ditugaskan mengambil peran sebagai narapidana dan setengah lagi berperan sebagai penjaga penjara.

Mereka ditempatkan dalam ruang eksperimen yang dirancang khusus menyerupai kondisi asli penjara dan diberikan seragam yang sesuai dengan peran mereka masing-masing. Sukarelawan narapidana mendapatkan perlakuan yang sama persis dengan yang biasa diterima narapidana di penjara umum, mulai dari saat mereka ditangkap sampai dimasukkan ke sel.

Sukarelawan penjaga tidak mendapatkan pelatihan khusus mengenai tugas mereka, tetapi dijelaskan mengenai potensi bahaya yang mungkin muncul dalam tugasnya seperti halnya bila bertugas di penjara sesungguhnya. Mereka diperbolehkan mengambil tindakan terhadap para narapidana yang menurut mereka diperlukan demi menegakkan aturan dan hukum yang mereka susun sendiri.

Hari pertama berlangsung tanpa insiden yang berarti. Namun, hari kedua, tiba-tiba para narapidana melakukan pemberontakan sehingga menaikkan ketegangan antara para penjaga dan narapidana.

Penelitian ini dilakukan tidak hanya untuk melihat perubahan psikologis dari para narapidana, tetapi juga kepada para penjaga yang berkuasa dan bebas mengambil tindakan untuk menunjukkan kewenangan mereka.

Terlihat bagaimana para penjaga yang tadinya mahasiswa biasa ini kemudian melakukan beragam penghukuman kepada para narapidana, mulai dari yang bersifat fisik sampai yang berusaha menghancurkan harga diri.

Dari sini, kita melihat bagaimana kekuasaan yang dimiliki bisa sedemikian drastis mengubah perilaku seseorang. Seorang ahli sejarah dan politik dari abad ke-19 Lord Acton mengatakan, “Power brings out the best in some people and the worst in others.” 

Artinya, cobaan terbesar seorang pemimpin adalah bagaimana ia bisa mengendalikan kekuasaannya sambil tetap memegang nilai-nilai etis yang dimiliki sebelumnya. Teringat ucapan Abraham Lincoln, “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”

Perpaduan Nikmatnya Citarasa Asia Tenggara oleh Manggar Bali

Tradisi Berpadu Inovasi Manggar Bali, sebuah restoran modern dengan konsep 'woodfire grill' yang dengan bangga...

Restoran Cina Ikonik di Bali, Naga Eight Meluncurkan Ruang Acara Strategis

Naga Eight mengumumkan pembukaan venue ruang acara baru yang istimewa. Event Space baru ini...

Ascott Indonesia Sukses Gelar Brand Showcase Terbesar

Pecahkan Rekor Muri Melalui ASR Festival – The Unlimited Discovery  ASR Festival adalah acara brand showcase...

- A word from our sponsor -