Mencetak Pemimpin

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Vince Lombardi, sang pelatih bola terkenal National Football League, mengatakan, “Pemimpin tidak dilahirkan, mereka diciptakan. Mereka diciptakan dengan usaha keras yang merupakan harga yang harus kita bayarkan untuk sukses.”

Rasanya tidak ada yang bisa menolak ungkapan ini, apalagi bila melihat ke sekeliling kita. Banyak organisasi ataupun lembaga pemerintah yang ternyata memang mengalami defisit pemimpin. Sebenarnya, banyak organisasi telah menyadari hal ini dan berusaha untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depannya dengan beragam program, baik melalui pendidikan formal maupun informal yang diharapkan dapat menempa mereka untuk siap menghadapi masa depan yang semakin menantang.

Bisnis pasti akan terus menghadapi tantangan, tetapi memastikan ketersediaan pimpinan puncak sebagai suksesi tidak pernah boleh diabaikan. Tentunya show must go on, kita tidak bisa melepaskan tanggung jawab si calon begitu saja demi persiapan dan pendidikan mereka. Program pembekalan keterampilan perlu berjalan beriringan dengan pencapaian target organisasi.

Seorang panglima di lembaga kemiliteran, pasti harus menjalani tugas komando, strategis, pengembangan pendidikan anak buahnya, sampai pada urusan administrasi sekalipun. Pemimpin perusahaan pun perlu mendalami tugas-tugas dasar operasional perusahaan, pengembangan manusia sampai strategi pencapaian target organisasi.

Dengan kemajuan teknologi, banyak alat bantu yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan program belajar ini. Mulai dari belajar online, coaching, mentoring jarak jauh, sampai pada melibatkan mereka dalam forum-forum diskusi strategis para pimpinan perusahaan.

Ada beberapa hal yang secara prinsip perlu dialami seorang calon pemimpin.

Pertama, berikanlah ia kesempatan untuk merasakan, baik kegagalan maupun kesuksesan. Setiap orang perlu belajar dari kegagalan. Dengan bimbingan yang memadai, individu dapat melakukan refleksi ulang terhadap situasi, tindakan yang dilakukannya sampai kepada dampak dari tindakan tersebut terhadap diri, tim maupun organisasi, dan mendiskusikan bagaimana tindakannya bila ia memiliki kesempatan untuk mengulang kembali situasi yang sama.

Dalam situasi kesuksesan terjadi, ia pun perlu mengenali titik sukses dari tindakan yang dilakukannya sehingga ia dapat mengulangi kesuksesan tersebut dalam situasi yang berbeda. Bila organisasi dapat menyediakan suasana aman bagi individu untuk mempraktikkan kesalahan, ia akan memiliki know how dalam bidang yang baru ia hadapi ini.

Memasukkan seorang calon dalam fail fast environment bukan berarti memberinya suatu lingkungan yang kebal kesalahan. Dalam budaya fail fast ini, individu didorong untuk berani menembus batas-batas yang ada dan menyadari kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi sambil berusaha meminimalisasi sebisa mungkin dampak negatif dari kegagalan tersebut. Pihak-pihak yang terlibat memiliki kesadaran tentang kemungkinan kegagalan dan dapat bereaksi dengan cepat untuk mengatasinya.

Terkoneksi Melalui Budaya: Sambutan Hangat Breman Saka di Suasana Bar Bali

Breman Saka, pendatang terbaru di skena bar yang ramai di Bali, menyambut pecinta bir...

Business Analytics dalam Sudut Pandang Transcosmos Commerc

Binus Online meluncurkan konsentrasi baru - Busniness Analytics, di bawah naungan Departemen Sistem Informatika...

Tether Umumkan Kolaborasi Strategis dengan D3 Labs

Tether umumkan penandatanganan MoU dengan D3 Labs selaku penyedia solusi berbasis blockchain terkemuka bagi...

- A word from our sponsor -