“Mindfulness” di Tempat Kerja

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Siapa yang akhir-akhir ini juga merasakan tingkat stres yang lebih tinggi daripada masa sebelum pandemi? Bekerja di rumah yang tadinya dibayangkan akan memiliki banyak waktu luang, ternyata malah membuat batasan antara jam bekerja dengan jam keluarga menjadi semakin kabur.

Studi oleh Kaiser Family Foundation menemukan, sekitar 40 persen rakyat Amerika merasa pandemi semakin mengurangi kesehatan mental mereka. Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia menemukan, laju rata-rata mortalitas (kematian) di rumah akibat serangan jantung sebesar 8 persen sebelum pandemi, tetapi pada masa pandemi, angka ini dilaporkan meningkat hingga 22-23 persen.

Banyak perusahaan yang sudah membangun keyakinan bahwa meningkatkan mindfulness karyawan akan mengurangi stres dan meningkatkan fokus, kemampuan pengambilan keputusan, dan well-being secara utuh. Mindfulness akan memberikan individu ruang untuk berpikir dan merupakan landasan untuk mental agility, resilience serta self awareness.

Dengan demikian, mindfulness dapat mengurangi kelelahan emosional dan meningkatkan keterbukaan untuk ide-ide baru serta empati yang lebih baik.

Bila anda memiliki pilihan antara perusahaan yang memikirkan well being karyawan dengan yang tidak, mana yang anda pilih? Apalagi kalau kita yakin bahwa mindfulness meningkatkan komitmen kerja dan engagement.

Masa depan dunia kerja bukan sekadar bekerja jarak jauh lagi, tetapi juga bagaimana menciptakan dunia kerja yang lebih menjadikan manusia sebagai fokus utama. Jadi, apa itu mindfulness?

Mengendalikan pikiran

Pekerja banyak yang terjebak pada rutinitas. Terkadang pada akhir hari, kita baru menyadari bahwa hal penting di agenda kita yang belum terselesaikan dan kita kesulitan mengingat-ingat apa yang sudah kita kerjakan sepanjang hari.

Riset membuktikan, 47 persen dari waktu jaga kita biasanya digunakan untuk memikirkan hal di luar apa yang sedang kita kerjakan saat itu. Jadi, dapat dikatakan bahwa kita beroperasi secara autopilot.

Beberapa ahli mengatakan, kita saat ini sedang berada pada era attention economy saat fokus dan perhatian sama pentingnya dengan keterampilan teknis dan manajemen lainnya. Para eksekutif harus memiliki fokus dan perhatian untuk memilih informasi yang membludak agar dapat membuat keputusan yang tepat.

Albert Einstein mengatakan, “it’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer.” Jadi, dengan fokus penuh berkutat pada masalah, membuat Einstein menemukan solusi-solusi yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Mazda Memimpin sebagai Official Car dalam Ajang Pertama Indonesia International Marathon

PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), Agen Tunggal Pemegang Merek untuk Mazda di Indonesia, dengan...

Ku Lari Ke Hutan 

Virtual Run Ajak Kamu Berlari Sambil Melestarikan Hutan Gerakan Hutan Itu Indonesia (HII) mengumumkan dibukanya pendaftaran Ku...

Belajar Bersama Maestro (BBM) 2022 

Seminggu digembleng di kawasan Borobudur di ajang ‘Belajar Bersama Maestro’ bersama maestro tari Didik Ninik...

- A word from our sponsor -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here