Kembali ke Kantor pada 2023

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Beberapa waktu lalu, kita melihat berita tentang puluhan ribu orang menandatangani petisi yang menuntut Pemerintah DKI untuk kembali memberlakukan bekerja dari rumah (work from home/WFH) karena melihat kemacetan yang semakin parah, ditambah tingkat polusi yang sepertinya terus memburuk setelah memasuki masa endemi ini.

Mereka merasa bahwa kembali bekerja di kantor dengan kondisi seperti saat ini justru kontra produktif ketika tubuh sudah lelah berjam-jam melawan kemacetan perjalanan.

Sementara itu, ketika pertama kali berpindah dari Google ke Yahoo, Marissa Mayer mengumumkan para pekerja yang bekerja secara jarak jauh untuk kembali ke kantor karena ia ingin mendorong setiap individu untuk lebih terhubung satu sama lain. Ia tidak ingin terjadi “silo” antardepartemen.

Twitter pun yang sebelumnya sempat mengumumkan untuk mengambil kebijakan bekerja secara remote tiba-tiba berubah ketika miliarder Elon Musk menjadi pemiliknya. Musk mewajibkan semua karyawan untuk bekerja di kantor 40 jam seminggu.

Mereka yang keberatan dengan kebijakan ini dipersilakan mengundurkan diri, yang berakibat terjadinya pengunduran diri massal, mulai dari staf hingga level manajemen puncak.

Tujuan para pimpinan tadi membuat kebijakan kembali ke kantor adalah meningkatkan produktivitas. Mereka khawatir bekerja secara remote membuat kontrol produktivitas mengendur. Namun, kedua pakar digital yang mengaku pandai membaca tren ini sepertinya tidak menyadari bahwa evolusi tempat bekerja sudah terjadi secara masif di seluruh dunia akibat pandemi kemarin. 

Hal itu sejalan dengan berubahnya cara kerja manusia, dari teknologi yang sekadar alat bantu hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, tatap muka maupun keberadaan para individu di tempat yang sama terasa sudah tidak lagi menjadi metode utama untuk meningkatkan engagement.

Bagaimana mungkin kita mengharapkan komitmen hati dari para karyawan ketika mereka sudah kelelahan menembus kemacetan setiap harinya? Demi apa kita mengajak mereka ke kantor, tetapi sesampainya di kantor mereka kembali membuka laptopnya di kubikal masing-masing dan tetap berkomunikasi melalui media elektronik?

Jadi, kira-kira, seperti apakah bentuk kantor 2023 yang ideal?

Kita memang membutuhkan pendekatan baru dalam menyikapi aktivitas berkantor ini. Filosofi bekerja pun perlu kita pertanyakan dengan tumbuhnya beragam industri baru, seperti teknologi, energi alternatif, logistik, dan teknologi finansial.

PAUL Le Café Kini Hadir di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Sejak tahun 1889, PAUL mendedikasikan cita rasa roti yang nikmat yang telah diwariskan melalui...

Mencetak Pemimpin

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob Vince Lombardi, sang pelatih bola terkenal National Football League,...

Dukung Pertumbuhan Ekonomi Digital 2023, Shopee Bagikan Tren Perilaku Belanja Konsumen

Dengan meningkatnya konsumen digital, bisnis perlu beradaptasi, tetap relevan dan membangun bisnis berkesinambungan. Shopee awali...

- A word from our sponsor -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here