Kiat Membangun Digital Start-up

Antovany Reza:

“Produk Hasil Start-up Harus Repeatable dan Scalable”

Untuk dapat menjadi pemilik perusahaan start-up, menurut Antovany Reza Pahlevi (Reza), ada dua syarat yang harus terpenuhi di dalamnya yakni pertama barang atau jasa yang dihasilkannya harus repeatable, dapat digunakan  berulang oleh para pengguna (user), dan yang kedua adalah produk atau jasa tersebut expandable, artinya bisa diekspansi ke manapun.

Hal tersebut mengemuka dalam perbincangan hangat pada dialog interaktif online, sociopreneur discussion series yang dipandu Nadia Hasna Humaira, seorang penggagas sociopreneur, dengan Antovany Reza Pahlevi (Reza) seorang technopreneur bisnis, yang saat ini tengah membidani lahirnya sejumlah projek start-up dan transformasi digital, Senin (19/4).

“Saat ini saya sedang meng-handle enam perusahaan start-up yang sedang berjalan, salah satunya adalah “Pantoera” yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa – Pantura, ide dasar lahirnya perusahaan start-up Pantoera. Kami membangun Pantoera sebagai satu wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif,” papar Reza yang juga menjadi Direktur Investasi Shinta VR.

Lulusan FISIPOL jurusan Hubungan Internasional UGM Yogyakarta ini melanjutkan argumentasi, mengapa dirinya memiliki  passion menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya, Kabupaten Batang – Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi talent (bakat) mereka sebagai digital natives (yang lahir sebagai generasi digital).

“Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza yang baru akhir 2020 menjadi talent scout sampai lahirnya Pantoera.

Sementara itu Nadia yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide tersebut secara terbuka dan penuh harap, gagasan membangun satu movement seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Dengan lapang dada dan tangan terbuka, kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih ‘mengena,’ sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun non komersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kualalumpur, Malaysia.

Nadia Hasna Humaira

Nadia salut dengan gagasan dan impian Reza yang punya keinginan menjadikan movement ini dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Seperti misalnya kalau ke Kalimantan, nama movement-nya adalah “Borneo” dan di Sumatera nanti namanya kira-kira adalah “Sumatrans.”

Sebab dengan menggandeng anak muda setempat di daerah asalnya, mereka tidak perlu mencari pembuktian (validasi) ke sejumlah kota besar di Indonesia. “Dengan berkembangnya teknologi digital saat ini, para pemuda tidak perlu lagi merantau ke kota yang lebih besar untuk memperoleh tingkat penghidupan yang lebih memadai, bahkan mereka bisa menjadi diri sendiri secara lebih optimal di daerah asalnya,” kata Nadia lagi.

Sejumlah hal menarik yang mengulik keinginan Reza membangun movement, sebelum menuju pada tahapan menjadi perusahaan start-up bagi Pantoera, bahwa anak-anak muda di sepanjang pantau utara Jawa itu sebelumnya minder, tidak mudah terbuka (speak up).

Padahal sebenarnya mereka memiliki bakat yang cukup kuat, namun selama ini terpendam begitu saja. Terbukti saat diminta menampilkan eksistensinya melalui medsos TikTok dan berpose di Instagram (IG), keahlian mereka mulai terlihat, tetapi belum mampu diekspresikan kepada audiens yang tepat dan berpotensi. 

Merawat Keresahan

Reza yang gemar melahap berbagai buku, termasuk memahami sejumlah metodologi ini menggambarkan, ide untuk menjadikan kisah atau narasi di balik bisnis start-up satu perusahaan, sejatinya selalu dimulai dengan keresahan yang terjadi pada diri sendiri.

“Anak muda itu harus senantiasa merawat keresahan dirinya sendiri, sehingga dari situ akan ada proses mengalami keresahan berpikir. Dari proses berpikir ini akan muncul berbagai ide, sehingga dari berbagai ide tersebut, pada akhirnya akan muncul yang dinamakan validasi ide. Sampai akhirnya perusahaan start-up tersebut akan mampu mengalahkan kekuatan perusahaan (enterprise), bahkan yang besar mampu bertumbuh menjadi perusahaan kelas unicorn

Mereka secara telaten terus merawat keresahan itu sampai jadi penyemangat mereka menyelesaikan problem (masalah) yang lebih besar, tuturnya sambil mulai berbagi ilmu. Reza yang menyukai bidang tulis-menulis dan mengaku awalnya adalah pribadi yang sulit berkomunikasi dengan orang lain secara terbuka, mengaku dirinya senang bercerita dan menjadikan narasi sebagai dasar utama dalam mengembangkan literasi bisnis start-up

“Salah satu metodologi yang menjadi acuan adalah lean method. Metode ini mengajarkan untuk memulai bisnis awal tidak memerlukan resource yang banyak sebagai modal dasar, melainkan perlu mencari di mana problemnya, lantas perlu mengadakan atau mencari solusi, baik dalam bentuk produk maupun jasa sebagai hasil akhir, atau apapun yang dapat menyelesaikan problemnya.“

“Begitu problem sudah terpecahkan, maka tinggal men-scale-up usaha tersebut, seraya melihat indikator berapa kasus yang dapat dipecahkan dalam satu bulan, misalnya. Jika pada bulan pertama hanya selesai satu kasus, maka bulan berikutnya ditingkatkan menjadi 10 sampai 100 kasus yang dapat diselesaikan,” tuturnya.

Perbedaan Start-up dan Enterprise

Konsep start-up seperti ini yang membedakannya dengan eksistensi enterprise (perusahaan), walaupun tidak dimungkiri, startup yang  memiliki sistem kerja yang sudah terstruktur, pada akhirnya juga akan berkembang menjadi enterprise. Namun mereka juga tidak akan meninggalkan elemen utama start-up, yaitu sifat bisnisnya berupa produk atau jasa yang dapat diulang.

Antovany Reza Pahlevi

Reza yang pandangan hidupnya berorientasi pada value (nilai), kindness (kebaikan) itu bersifat superpower dan muda, memiliki spirit khusus, perlu terus menjaga isu-isu di sekitarnya, berpandangan, bahwa perusahaan itu pasti sudah jelas proses bisnisnya.

Artinya jika suatu perusahaan menjual produk komputer ataupun laptop maupun telepon selular, misalnya, maka produk yang dijual adalah tetap jenis produk yang sama, hanya berbeda nomor serialnya. “Karena itu income-nya diperoleh dari produk yang dihasilkan perusahaan.“

Bedanya dengan perusahaan start-up, maka pada perusahaan ada yang memiliki divisi riset dan pengembangan produk, sehingga mereka harus terus berpikir dan berinovasi menciptakan produk-produk baru pada periode tertentu.

Sementara itu mereka yang bergerak sebagai perusahaan start-up, harus selalu berpikir menciptakan jalur income baru. Mereka akan terus mencari dan menguji coba ide bisnisnya, sampai kemudian menjadi produk yang established (mapan). Itu sebabnya kebanyakan pengusaha startup tidak takut gagal, namun akan terus berupaya supaya bisnisnya survive (bertahan).

Sebaliknya, di sejumlah perusahaan, apabila produk yang dihasilkan pada akhirnya gagal atau tidak laku lagi sesuai perkembangan zaman dan selera pasar, maka produk tersebut harus dihentikan produksinya.          

Harus diakui, tambah Reza, bahwa bisnis yang “agile” adalah usaha bisnis yang tangkas. Agile merupakan satu jenis kerangka kerja (framework) yang juga digunakan di dalam projek start-up manajemen. “Dengan agile framework, maka pelaku bisnis  start-up akan terus mencari, karena mereka merasa belum sempurna, sehingga usahanya akan terus-menerus disempurnakan.“

Ibaratnya seperti update software di laptop, baik dengan perangkat iOS atau pun menggunakan aplikasi playstore, adakalanya sistem meminta dilakukannya update data. Itu sebabnya bisnis start-up secara terus-menerus meng-update dirinya, sambil secara berkala mencari update terbaru. (NM)

Belanja Skin Care di Official Store

Perawatan Kulit Antipanik dengan Belanja Online Kulit merupakan organ terbesar yang memiliki peran penting untuk...

The Unconventionals

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob Bisnis mulai berkembang dan saatnya bagi perusahaan untuk mempersiapkan...

Accor Adakan Pekan Keberagaman dan Inklusif

Accor mengadakan pekan Keberagaman dan Inklusif (Diversity & Inclusion) melalui kegiatan talk show bertema...

- A word from our sponsor -