Vaksin dan Tren Jamu Herbal Penangkal Covid-19

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pandemi Covid-19 telah melumpuhkan banyak sektor bisnis. Sangat disayangkan bahwa mobilitas dan produktivitas masyarakat sangat terpengaruh karena banyaknya pembatasan yang diberlakukan oleh organisasi kesehatan internasional dan pemerintah berbagai negara. 

Sebaliknya, ini merupakan waktu yang sangat sibuk bagi industri farmasi, perawatan kesehatan, dan kebugaran karena situasi pandemi menuntut sektor ini untuk membawa penelitian, solusi, dan inovasi mereka ke panggung global lebih cepat dari yang diharapkan. 

Untuk mengetahui lebih dalam tentang bagaimana perusahaan-perusahaan dalam industri ini telah mendorong untuk berkembang dan tetap bertahan di tengah situasi pandemi, Isentia menganalisa data media digital dan sosial yang relevan di negara-negara Asia Tenggara yang terkemuka – Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Berikut adalah sorotan utama dalam studi kami terhadap lanskap industri farmasi, perawatan kesehatan, dan kebugaran saat tahun baru dimulai. 

Vaksin Tetap Prioritas Utama dan Menjadi Trending Topic

Biasanya, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menguji keefektifan vaksin dan memerlukan waktu produksi tambahan. Namun, beberapa perusahaan telah mencapai tahap uji klinis pengembangan dalam waktu satu tahun setelah pandemi. 

Pemerintah di seluruh Asia Tenggara dan publik digital juga telah meningkatkan pesan mereka tentang prioritas vaksin Covid-19 saat kita menutup tahun 2020 dan membuka pintu pada tahun 2021. 

Selama penelitian, kami menemukan cakupan volume tinggi pada vaksin yang dikembangkan bersama oleh Pfizer dan BioNTech, terutama terkait tingkat efektifitasnya yang mencapai hingga 90 persen dalam mencegah infeksi Covid-19 dalam uji coba Fase 3 yang sedang berlangsung. 

Secara bersamaan, meskipun masuk ke fase yang sama, Johnson & Johnson untuk sementara menghentikan uji klinis kandidat vaksin Covid-19 karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta studinya. Di beberapa pasar, yakni Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina, pembicaraan juga mencakup daftar prioritas vaksinasi. 

Di Indonesia sendiri, vaksin Sinovac, Novavax, AstraZeneca-Oxford, dan Covax juga ramai diperbincangkan di kalangan netizen. Pasalnya, semenjak Presiden Joko Widodo melakukan vaksin pertama kali pada 13 Januari 2020 dan vaksin kedua yang dijalani pada 27 Januari 2020, sebagian besar masyarakat mengungkapkan bahwa mereka menjadi percaya dan yakin untuk divaksin. 

Setelah beredar berita Presiden Joko Widodo telah divaksin menggunakan Sinovac, netizen Malaysia pun turut menyuarakan pendapatnya dan menyatakan kecemburuannya karena Indonesia mendapat vaksin terlebih dahulu. 

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Perusahaan Farmasi Berkolaborasi untuk Mengobati Pasien dengan Lebih Baik 

Berkat ekonomi dan prioritas yang didorong pandemi, pergeseran ke arah industri farmasi yang lebih terintegrasi secara regional telah terjadi di seluruh pasar.

Dari kerjasama global, regional dan domestik hingga kemitraan dan bahkan akuisisi bisnis, inisiatif yang dilakukan antara perusahaan mempercepat penemuan vaksin dan mengurangi hambatan dalam pengembangan penelitian, distribusi, dan perizinan untuk memproduksi vaksin secara massal. 

Salah satu contohnya adalah COVIFOR, salah satu produk unggulan dalam perawatan pasien Covid-19, yang diimpor oleh PT Amarox Global Pharma (Amarox) di Indonesia dari Hetero India. Distributor lokalnya, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe), bekerja sama dengan Amarox dalam menyesuaikan harga pasar untuk COVIFOR (Remdesivir). 

Kedua perusahaan tersebut disebut telah berkomitmen untuk mendukung tujuan pemerintah dan berupaya mencapai lebih banyak kesembuhan pasien dengan mengurangi biaya. 

Sementara itu, di Filipina, GlaxoSmithKline bermitra dengan Vir Biotechnology untuk memperluas eksperimen pengobatan antibodi Covid-19 mereka, setelah uji coba awal pada sekelompok sukarelawan tidak menimbulkan masalah keamanan. 

Perusahaan Farmasi Lokal Mencetak Pencapaian di Tengah Pandemi 

Terlepas dari prioritas industri saat ini, beberapa perusahaan farmasi besar lokal tetap mempertahankan daya saing dengan mencatatkan prestasi di tengah pandemi. Perusahaan obat tradisional Indonesia, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) atau Sido Muncul, masih mencatatkan kinerja positif di kuartal III tahun 2020, terutama dari pendapatan penjualan segmen jamu dan suplemen. 

Kenaikan pendapatan tersebut berdampak pada pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 10,78 persen menjadi Rp640,80 miliar dari Rp578,44 miliar pada kuartal III 2019. Sido Muncul ini sendiri juga sempat menjadi trending topic di Online News dengan total 14.7K buzz. 

“Cukup mengejutkan bahwa pandemi tersebut juga mendorong permintaan obat-obatan herbal yang dipercaya dapat menjaga kesehatan dan melindungi dari virus Covid-19. Apalagi, industri jamu diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pesat yang dipicu oleh pandemi,” jelas Yudha Prawira, Insights Manager Isentia Indonesia. 

Dexa Group melalui PT Dexa Medica memenangkan Penghargaan Industri Inovatif 2020 dari Kementerian Riset dan Teknologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia karena komitmennya untuk mengembangkan Obat Modern Asli Indonesia. Sementara di Vietnam, Domesco Medical Export JSC berhasil masuk ke dalam 50 emiten terbaik di Vietnam 2020 versi Forbes Vietnam. 

Gerakan Semangat Kurangi Plastik

Dorong Transformasi Wisata di Kampung Berseri Astra Gedangsari Ibarat bumi dan langit, berwisata lekat dengan...

Membuka Akses Pasar dengan Memanfaatkan Media Sosial

KADIN Indonesia dan Facebook memberikan peningkatan literasi digital UMKM dengan menggelar pelatihan bertema “Membuka...

ShopeePay Super Online Deals Meriahkan Aktivitas Puasa dari Rumah

ShopeePay sediakan promo cashback hingga 100% di berbagai merchant online untuk bantu penuhi kebutuhan...

- A word from our sponsor -