Talk Therapy

0
7
Photo by Morgan Basham on Unsplash

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Akhir-akhir ini, fokus kita terpusat pada upaya menyehatkan fisik maupun mental keluarga. Di media sosial, kita melihat sahabat-sahabat yang mendalami kegiatan menanam sayur, olahraga, dan beragam latihan kebugaran, meningkatkan kreativitas, seperti melukis dan kegiatan seni lainnya, ataupun mengikuti komunitas baru yang semuanya bisa dilakukan secara daring.

Meski demikian, pada musim pandemi, hal yang juga penting diperhatikan adalah kesempatan berbicara lebih mendalam dengan orang lain, seperti orangtua, pasangan, teman kerja, sampai ke atasan dan bawahan. Ini tidak sekadar curhat atau melepaskan isi hati, tetapi juga pembicaraan yang konstruktif penuh kepedulian yang membantu bekerjanya hormon endorfin & meredakan hormon fight dan flight kita.

Saat terpisah secara fisik, kebutuhan berbicara one on one semakin meningkat. Mengingat tidak ada lagi momen bicara sambil lalu atau bertegur sapa ketika tiba-tiba berpapasan. Berbicara lewat audiovisual perlu diupayakan secara saksama agar pembicaraan dapat terjadi. Sulitnya, banyak di antara kita masih merasa bahwa hal ini tidak terlalu penting.

Banyak juga yang masih merasa kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk membicarakan hal yang berkenaan dengan pribadi seseorang. Apalagi bila pembicaraan tersebut berkaitan dengan kinerja yang harus diperbaiki dan dikembangkan dan dilakukan dengan cara baru secara virtual pula.

Di sisi lain, dalam tekanan krisis ekonomi seperti ini, pemimpin tidak bisa hanya berfokus pada ketahanan bisnisnya. Ia pun perlu memperhatikan kesejahteraan jiwa dan pengembangan anak buahnya. Bawahan perlu diajak bicara, didengarkan aspirasinya, dan diajak berdiskusi secara konstruktif. It’s time for steady decision-making and lots of repetition. Karena situasi kehidupan dan berkomunikasi sekarang berbeda dari biasanya, kita perlu betul-betul memperhatikan cara berkomunikasi.

Komunikasi perlu membangun rasa aman & percaya

Saat begitu banyak ketidakjelasan terjadi dalam hidup kita saat ini, karyawan perlu memiliki sesuatu yang dapat mereka jadikan pegangan. Biasanya pemimpinlah yang dia jadikan andalan. Sebuah survei mengatakan, pada dasarnya, individu percaya bahwa perusahaanlah yang bisa menjawab kegalauan mereka.

Artinya, setiap founder, pemimpin maupun manajer perlu memikirkan strategi komunikasinya dan tidak boleh puas sekadar mengirimkan pengumuman atau mengadakan pertemuan-pertemuan town hall.

Di samping konsistensi melakukan yang dikatakan, kita perlu betul-betul belajar berkomunikasi dan selalu siap menghadapi anak buah yang sedang kesulitan atau bahkan membuat kekeliruan. Kita juga tetap perlu membimbing anak buah untuk melihat gambaran masa depannya dan bagaimana menyusun strategi yang lebih jelas untuk dapat mencapainya.

Ingat bahwa berkomunikasi itu tidak sekadar messaging, tetapi juga melibatkan tanya jawab intensif yang dapat memberikan arah dan ketenangan. Pada praktiknya komunikasi seperti ini mungkin tidak bisa dilakukan hanya sekali. Seberapa pun lelah dan bosannya untuk menyampaikan hal tersebut, kita tidak boleh berhenti.

Menggunakan nada yang pas

Kenalan saya, seorang manajer yang sangat berprestasi, sulit memahami mengapa orang lain tidak bisa memiliki semangat yang sama dengannya. Lawan bicara sering kali merasa nada bicaranya cukup tinggi ketika berbicara, baik dalam kelompok besar maupun kecil, yang membuat orang enggan untuk membantah atau mengemukakan pendapatnya dan hanya menjawab bila ditanya.

Memang situasi pandemi membuat semua orang cemas. Namun, sebagai atasan, nada bicara kita tetap perlu mengandung ketenangan dan optimisme. Kita memang tidak bisa tahu bentuk masa depan kita, tetapi kita juga perlu meyakinkan niat kita untuk menembus ketidakjelasan ini. Yakinkan bahwa situasi ini adalah situasi maraton bersama yaitu kita sebagai atasan dapat menjadi pegangan bagi anak buah kita.

Libatkan perasaan

Banyak orang beranggapan bahwa melibatkan perasaan dalam percakapan apalagi pekerjaan menunjukkan kelemahan. Padahal, hubungan sulit menjadi cair, bahkan sampai terbina suasana kondusif bila perasaan tidak terlibat. Kita pun perlu mendengar rasa, apa yang tersirat, bukan sekadar apa yang dikatakan lawan bicara. Kita perlu menimbang dengan rasa, bila kita mau berempati.

Bahkan, tidak ada salahnya bila kita juga menceritakan tentang perasaan kita sendiri asalkan tidak mendominasi seluruh percakapan. Fokus tetap harus diarahkan pada lawan bicara dan menunjukkan bahwa kita berminat pada pembicaraan yang sedang terjadi.

Pembicaraan konstruktif

Pemimpin yang baik pasti sudah terlatih untuk berbicara. Sebuah studi mengatakan, pemimpin yang baik menggunakan 80 persen waktunya untuk berbicara, baik untuk melakukan perencanaan, koordinasi, mengambil keputusan, memonitor kinerja, maupun mengembangkan hubungan baik. “Organization is – not just a network of coordination and cooperation – they’re networks of conversations!”

Dalam melakukan peran sebagai coach yang membimbing bawahan, seorang pimpinan perlu melibatkan diri dengan pengembangan dan perbaikan bawahannya. Pimpinan tidak pernah boleh dianggap sebagai algojo yang menentukan vonis ke bawahan. Pemimpin perlu mengajak bawahan melihat bersama rapor pencapaian bawahan pada masa lalunya dan bersama pula melihat kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang.

Pemimpin yang ideal bahkan bisa menggambarkan reaksi-reaksi apa yang tidak produktif pada bawahannya serta mana yang produktif dan bermanfaat bagi dirinya. Seorang atasan harus menjadi conversational coach. Mereka harus melihat kesempatan coaching dengan bawahan sebagai kesempatan mempelajari perasaan bawahan, menguatkan hubungan, memperoleh ide-ide baru, dan kemudian membangun komitmen pengembangan bersama.

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 7 November 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here