Personal Brand, Siapa Kamu?

0
5
Koppi Asia

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Teman saya pernah sangat terkenal sebagai seorang DJ. Lagunya berkumandang di berbagai tempat hiburan dan berita selebriti di media. Sosoknya selalu identik dengan konteks pesta dan ribuan crowd yang digerakkannya untuk menikmati musik. Namun, 5 tahun lalu tiba-tiba saja ia ingin mengubah fokusnya dan membuka sebuah warung kopi.

Khalayak pun mengaitkan warung kopi ini dengan profesinya sebagai DJ ketika mereka tahu bahwa ia adalah pemiliknya. Padahal, teman ini betul-betul ingin meninggalkan profesinya sebagai pemusik dan ingin dikenal sebagai perajin kopi. Ternyata mengubah image yang sudah begitu kuat tidaklah mudah.

Teman kita ini memulai profesi barunya sebagai barista, kemudian lanjut sebagai coffee connoisseur yang mempelajari seluk beluk kopi dari A- Z, sampai mengenali jenis kopi melalui indra penciuman. Apakah publik sekarang mengenalnya sebagai perajin kopi? Tetap belum. Ia masih perlu terus menggarap branding-nya hingga kuat.

Personal branding sebenarnya akan tercetak dengan sendirinya melalui waktu yang sangat panjang. Namun, ada kemungkinan ia tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Ada seorang direktur keuangan yang tiba-tiba mendapat cap jagoan mengotak-atik laporan keuangan sehingga perusahaan terlihat untung. Apakah ia menghendaki branding seperti ini? Tentunya tidak. Dari mana ia mendapatkan kesan seperti itu? Bisa saja dari cerita burung, dari asumsi orang yang berkepanjangan, ataupun kesan yang ditangkap orang melalui pekerjaan atau tindak tanduknya.

Seorang yang berprofesi sebagai anggota TNI akan segera mendapatkan personal branding melalui kemiliterannya, sebagai orang yang tangkas, tegas, perkasa dan cinta negara. Ini memang cap yang otomatis didapatkannya sesuai dengan profesi. Namun, apabila ia ingin memiliki citra yang sedikit berbeda, misalnya sebagai orang yang ramah dan bersahabat, ia harus bekerja keras untuk membangunnya. 

Branding akan datang sesuai dengan lembaga tempat kita bekerja, profesi kita, dan apa yang pernah kita buat dan terekam oleh masyarakat. Namun, kalau kita tidak mengembangkannya dengan baik dan kuat, berkembangnya branding ini pun akan lamban. We judge ourselves by what we feel capable of doing, while others judge us by what we have already done. Your path may make perfect sense to you, but how can you persuade others to embrace your new brand—and take you seriously?

Ada lima langkah yang merupakan kunci strategi untuk membangun brand diri kita.

Tentukan sasaran Anda

Pikirkan siapa yang ingin kita sasar dengan membangun brand tersebut. Apakah tujuannya komersial? Bila iya, segmen pasar mana yang sedang disasar. Seorang menteri yang memiliki hobi menyanyi dan bermain musik banyak memasang kegiatan bermusik dan bernyanyinya di media sosial. Dengan demikian, tentunya yang terbaca oleh masyarakat pastilah fokusnya dalam dunia musik ini, bukan keberhasilan dan kerja kerasnya dalam menunaikan tugasnya. Dengan sasaran yang jelas, kita bisa fokus membangun bukti-bukti keberhasilan dan upaya terstruktur ke arah itu. Dalam upaya personal branding, fakta adalah alat utama.

Tajamkan keunikan Anda

Sama halnya dengan menjual produk, sebagai individu pun kita perlu memikirkan unique selling proposition kita masing-masing. Hal yang menonjol inilah yang akan terekam dalam ingatan orang lain. Bagaimana bila memang belum ada karya atau prestasi yang menonjol. Kita terpaksa bekerja keras untuk membangunnya bila memang ingin terlihat oleh market yang kita sasar. 

Buat narasi Anda

Seorang teman ingin serius menekuni karier sebagai pembicara. Berbekal pengalaman hidupnya yang pernah menderita sakit parah dan sembuh dengan latihan yoga, meskipun lama berkarier di dunia perbankan, ia memilih menggunakan kisah kesembuhannya ini dalam berbagai sesinya. Personal branding-nya ini ternyata berhasil, sekarang, ia dikenal sebagai wellness guru. Setiap orang tentunya memiliki kisah hidupnya sendiri yang sebenarnya bisa kita kemas untuk membangun branding kita. Apalagi bila kisah tersebut relevan dengan image dan value yang ingin kita tonjolkan. Narasi yang dikemas dengan cantik ini tentunya akan lebih mudah diingat oleh publik.

Buat “tagline” pribadi Anda

Meskipun orang pernah mendengar cerita kita, tahu tentang diri kita, tetapi belum tentu mereka dengan mudah bisa mendefinisikan kembali diri kita. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita membuat semacam tagline yang jitu untuk memperkenalkan diri atau mencantumkannya di profil kita.

Secara strategis, kita memang perlu menanamkan image yang eye catching dalam ingatan orang-orang yang kita sasar, mengenai eksistensi, cerita, dan kompetensi kita. Tujuan kita tentunya adalah agar kita berada pada top of mind dari orang yang suatu saat membutuhkan jasa atau produk yang kita tawarkan.

Komitmen untuk terus membuktikan diri

Orang tentu tidak ingin menyombongkan diri atas prestasi yang sudah dicapainya. Namun, tumpukan dari rekor yang kita capai ini pasti akan memperkuat personal brand kita. Oleh karena itu kita perlu mencari cara yang baik untuk mencatat dan bahkan mempublikasikan apa yang sudah dilakukan beserta hasil dan manfaatnya tanpa menimbulkan kesan menyombongkan diri.

Tantangannya adalah bagaimana kita ingin dipersepsi oleh publik sehingga kita perlu secara konsisten menyajikan cerita yang menarik tentang perkembangan diri dan menyebarkannya dengan taktis. Seorang yang ingin melakukan personal branding harus mempunyai target seperti layaknya search engine optimization.

Semakin banyak koneksi dan konten yang kita lontarkan ke pasar, semakin kuat brand kita dikenal dan dicari. Semua ini tentunya tidak terjadi dalam waktu semalam. Butuh komitmen penuh untuk membangunnya, apalagi bila kita ingin sampai menembus pasar global..

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 24 Oktober 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here