“Engagement” Layar Kaca

0
2

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Saat ini, kantor sudah tidak lagi berbentuk gedung atau ruangan semata. Work is not just a place. Untungnya, banyak perusahaan yang sudah oper gigi dan siap menuju kehidupan kantor virtual dengan server kuat yang bisa diakses dari mana-mana disertai dengan pengamanan data untuk menunjang pelayanan virtual mereka.

Seorang futuris bahkan menyatakan bahwa tempat kerja akan berubah selama-lamanya, setiap orang akan mengembangkan gaya bekerja work from home-nya sendiri. Kita beralih dari centralized work force menjadi distributed work force. Ada banyak cara orang menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Ada yang membuat semacam studio yang nyaman tidak diganggu oleh anggota keluarga lain. Ada juga yang justru menempatkan tempat kerjanya di tengah rumah, agar ia tidak merasa kesepian.

Lalu, apakah kita juga sudah memikirkan bagaimana bentuk kantor kita selanjutnya. Yang jelas kantor kita tetap harus terdiri dari sekumpulan orang yang sama-sama berkarya, bekerjasama, berkoordinasi, untuk menuju sasaran bersama yang sudah ditetapkan. Pada saat pandemi, orang-orang yang seharusnya guyub dalam mengerjakan tugas ini berada pada tempatnya sendiri-sendiri.

Di sinilah tantangan, baik bagi para employers maupun employee-nya, bagaimana mereka semua tetap bisa bekerja sama, berkoordinasi, dan tentunya memberikan hasil nyata produktivitas. Teknologi memang menjadi sarana utama untuk berhubungan satu sama lain. Namun, sambungan yang sempurna tetap tidak menjamin hubungan kerja yang erat. Ada beberapa area yang perlu digarap para atasan agar anggota tim tetap engaged walaupun tidak saling berdekatan.

Memperlakukan karyawan sebagai komunitas

Tindak lanjut dan monitor pekerjaan memang perlu dilakukan secara lebih ketat pada saat kita terpisah-pisah seperti ini. Hubungan antara individu dengan atasan serta teman kerja pasti menegangkan bila hanya sebatas pekerjaan. Individu juga memerlukan hubungan sosial yang biasanya terjadi secara informal di kantor. Tidak ada salahnya kita mencari jalan untuk sesekali mengadakan pertemuan virtual coffee break. Kita juga bisa membuat forum hobi ataupun minat di luar pekerjaan.

Membiasakan “inclusivity”

Berapa pun jumlahnya, kita tidak boleh mendiamkan anggota tim yang pasif. Kita harus pandai-pandai menemukenali individu yang terlalu diam, menarik diri, dan tidak berpartisipasi. Kita perlu menemukenali alasan resistensinya sehingga dapat melibatkan dan mengawasi keterlibatannya dalam kesibukan organisasi.  

Komunikasi yang kuat

“Overcommunicating and staying in touch is the need of the hour”. Ada pemimpin yang merasa kikuk bila harus banyak bicara dan mengulangi beberapa larangan, penyuluhan, kebijakan perusahaan, dan protokol. Namun, saat sekarang, inilah yang dibutuhkan organisasi. Kita tidak boleh lelah berkomunikasi, melihat dampaknya, dan mengingatkan kembali.

Penggambaran sasaran yang jelas

Dalam situasi work from home ini, disiplin setiap individu adalah kunci. Namun, kejelasan tentang big picture dari bisnisnya, apa sasaran jangka pendek dan panjang perusahaan juga perlu mereka miliki. Berapa target yang harus mereka capai, ke mana perusahaan akan bergerak dalam situasi yang serba tidak jelas ini, seberapa jauh perusahaan akan melakukan penyesuaian terhadap kondisi, perlu dipahami oleh setiap individu dari lapisan atas sampai terbawah sekalipun.

Rajin merekognisi

Siapa yang tidak senang bila orang memberi penghargaan pada apa yang sudah dilakukan? Namun, banyak atasan yang tidak bisa mengidentifikasi secara spesifik hal apa yang secara signifikan dilakukan oleh bawahannya. Dalam era digital ini, hal tersebut lebih sulit lagi untuk dilakukan. Kita tidak tahu apakah seseorang bertindak sendiri atau berkelompok, apakah suatu ide itu hasil brainstorming atau muncul dari diri seorang individu. Seorang pemimpin harus berada di tengah-tengah anggota timnya, walau secara virtual. Ia harus bisa mengenali siapa yang memang berkinerja dan mengeluarkan ide-ide cemerlang.

“Gaming and having fun”

Generasi sekarang adalah generasi gaming. Sejak lahir mereka sudah berkenalan dengan smartphone, terbiasa bermain, berkompetisi kalah menang dalam permainan. Oleh karena itu, bagaimana atasan dapat menjaga motivasi bawahan? Cara koneksi virtual bagaimana yang paling disukai? Perubahan apa yang paling bisa diterima dengan cepat? Cara berhubungan seperti apa yang lebih mereka sukai? Dengan memahami gaya dan minat karyawan, kita dapat menyusun strategi menangani distancing dalam masa ini. Kita juga bisa mengupayakan fun dalam pekerjaan berat sekalipun.

Perkuat belajar

Belajar adalah kegiatan yang tidak pernah lekang dimakan waktu. Apalagi pada masa sekarang ketika belajar bisa didapatkan dari sumber mana pun. Seorang atasan bisa mengangkat isu pembelajaran dengan cara ringan dan bahkan menarik sehingga organisasi yang terpisah-pisah ini bisa memiliki nuansa belajar yang segar. Banyak perusahaan pada masa digital working ini mengupayakan blended learning dengan membuat platform elektronik yang interaktif.

Promosikan kesehatan dan “wellness”

Tidak ada seorang pun yang tidak setuju untuk menjaga kesehatan. Namun, hal ini perlu diangkat ke kesadaran sehingga anak-anak muda sekalipun, yang belum terlalu sadar akan pentingnya kesehatan, akan merasa diperhatikan dan membeli konsep pentingnya kesehatan mental dan spiritual. Perhatian terhadap kesehatan ini bisa membangkitkan rasa kekeluargaan yang lebih kental di antara anggota kelompok.

Bekerja dari rumah sudah bukan pilihan, ini menjadi masa depan yang harus diterima. Kita memang perlu berterima kasih pada perkembangan teknologi. Namun, semua pihak tanpa terkecuali, baik itu professional SDM, atasan, maupun bawahannya sekalipun perlu mengupayakan kebersamaan agar bisa sukses menembus krisis ini. Jangan lupa tetap tersenyum, karena ini adalah perekat hubungan kita yang utama.

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 3 Oktober 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here