Sains dan Tim di Balik NEXT%

0
16

Terdapat berbagai barometer kemajuan dalam berlari. Ambang batas seperti lari cepat 100-meter selama 10 detik, lari satu mil empat menit, dan maraton dua jam memikat para atlet dan penggemarnya. Setelah satu batasan terlampaui, tolok ukur baru pun ditetapkan, dan diikuti dengan hadirnya tujuan baru untuk menandakan potensi manusia.

Untuk Nike, Breaking2 pada 2017 membuka pendekatan baru untuk desain footwear, sinergi antara ilmu olahraga, teknik, dan atlet yang tertuang dalam Nike Zoom Vaporfly 4%, yang mendefinisikan pendekatan terdepan untuk meningkatkan running economy dalam industri ini.

Tidak hanya dengan satu kali eksperimen, hal ini mendorong pengembangan program desain terus-menerus yang menghasilkan sistem perintis, yang berlandaskan pada ilmu olahraga dan diverifikasi oleh Nike Sport Research Lab: Nike NEXT%.

Berikut ini adalah tampilan di belakang layar tentang tim-tim yang mendorong NEXT% untuk maju – inci demi inci, detik demi detik – seperti yang diceritakan oleh para atlet, desainer, insinyur, dan ilmuwan yang memungkinkan hal ini terjadi.

Akar dari NEXT%

Membuat atlet menjadi lebih baik telah menjadi fokus utama Nike sejak perusahaan ini berdiri. Namun, gagasan untuk membuat atlet lebih baik secara terukur dicetuskan pada 2013.

“Kami mulai menyatukan banyak konsep tentang bagaimana membuat atlet lebih efisien pada saat kompetisi,” kata Tony Bignell, VP, Footwear Innovation. “Hal tersebut membutuhkan penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun hingga akhirnya rampung pada 2017, pada acara Breaking2.”

Photo by Dominika Roseclay from Pexels

Eliud Kipchoge menggunakan Nike VaporFly 4% secara perdana selama acara Breaking2 di Monza, Italia, meresmikan kehadiran Vaporfly 4%.

“Kami mulai menyatukan banyak konsep tentang bagaimana membuat atlet lebih efisien saat berkompetisi.”
Tony Bignell, VP, Footwear Innovation

Berlari di speedway di Monza, Italia, Breaking2 menampilkan Nike VaporFly 4% secara perdana, sepatu lari perintis yang dikenakan oleh Eliud Kipchoge, Lelisa Desisa dan Zersenay Tadese, lahir dari penelitian ilmiah yang mendalam tentang batas potensi atletik, dan bagaimana sepatu dapat memengaruhi efisiensi lari.

Hal ini termasuk penilaian dasar, pertimbangan elemen material, seperti bantalan, dan kapasitas fisik yang sangat teknis seperti kecepatan kritis.

“Kami melihat variabel yang berkaitan dengan langkah pelari, dampak, dan detak jantung pelari untuk memahami bagaimana sepatu memengaruhi kinerja mereka. Semakin lama Anda berlari di atas ambang batas, semakin cepat Anda akan menghabiskan sumber energi Anda,” jelas Matthew Nurse, VP, NXT Sport Research Lab. 

“Kita dapat mengukur konsumsi oksigen seorang atlet untuk memahami efisiensi berlari mereka, dan kapasitas aerobik maksimumnya (VO2max). Ini membantu kami memahami kapasitas dan efisiensi. Anggap saja ini sebagai ukuran tangki bensin, dan mil per galon yang Anda keluarkan dari tangki bensin itu. Dalam penelitian kami, kami ingin memahami apa ambang itu untuk mengetahui seberapa cepat Anda akan menghabiskan, atau mengisi, cadangan energi Anda.”

Konsepnya adalah jika Anda dapat membantu menjaga cadangan energi, seorang atlet akan dapat berlari lebih lama dan lebih cepat. Solusinya jauh lebih kompleks.

MEMAHAMI TUJUAN

Waktu – seperti yang diungkapkan dalam rekor dunia dan batasan umum – adalah cara yang relatif mudah untuk memahami standar berlari.

“Di Amerika Serikat, kami familiar dengan lari jarak satu mil, karena kami melakukannya saat sekolah menengah (high school),” kata peraih medali emas 1500- meter 2016, Matt Centrowitz. “Ini merupakan satu dari tiga jenis kompetisi khas yang dilakukan, bersama dengan maraton dan 100 meter.”

Kegiatan tersebut bukanlah sekadar pengukur jarak. Batasan waktu (10 detik, empat menit dan dua jam) secara historis merupakan barometer potensi manusia. Namun, memahami nuansa kegiatan lain sangat penting untuk memenuhi potensi NEXT%.

Hal ini bisa dipahami dengan mengamati jenis kompetisi Centrowitz yang khas, yaitu 1500 meter. Kompetisi lari ini merupakan perpaduan antara kecepatan dan ketahanan. Atau seperti yang dia jelaskan, “Ini bukan hanya seperti 100-meter yang berlari cepat setelah pistol ditembakkan. Di sini, Anda mungkin mendapati diri Anda berlari cepat di awal dan kemudian melambat ataupun sebaliknya.”

Laura Muir adalah pelari jarak menengah Inggris. Baginya, 1500 (meter) memberinya drama yang tak terbantahkan. “Kompetisi ini adalah di mana Anda menemukan campuran dari banyak kemampuan berbeda. Ada yang datang dari 800, 1500, dan ada yang sampai 5K,” kata Muir. “Ini mungkin satu-satunya perlombaan lari di mana orang-orang yang biasa berlari di kejuaraan besar dapat tampil dengan kemampuan mereka yang kurang optimal.”

“Di Amerika Serikat, kami familiar dengan lari jarak satu mil, karena kami melakukannya saat sekolah menengah (high school). Ini merupakan satu dari tiga jenis kompetisi khas yang dilakukan, bersama dengan maraton dan 100 meter.”

Matt Centrowitz, pelari jarak menengah Amerika

Kecepatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak lari berkaitan erat dengan strategi – tahap pertengahan memainkan peran yang sangat penting untuk mengatur bagaimana dorongan terakhir akan dimainkan. Berlari terlalu kencang di awal mungkin membuat seseorang lelah dan menurunkan daya tahan; bergerak terlalu lambat, finisher yang lebih cepat mungkin akan diuntungkan untuk melewati garis finish terlebih dahulu.

“Orang memiliki keahlian yang berbeda selama perlombaan berlangsung,” kata Muir.

Strategi juga menentukan keberhasilan dalam kompetisi seperti lari gawang 400 meter, di mana kecepatan sprint murni (seperti di 200) harus diimbangi dengan jarak ketahanan pelari 800-meter dan keahlian pelompat dalam mengatur waktu.

“Dalam lari gawang 400 meter, Anda pasti harus cepat. Tapi menurut saya ada banyak hal lain yang juga penting selain kecepatan,” kata pemegang rekor dunia Dalilah Muhammad. “Hingga tahun ini, saya mungkin memiliki flat time paling lambat pada lari gawang 400-meter dari semua pesaing saya tetapi saya masih bisa meraih banyak kemenangan. Terkadang kecepatan dapat mengacaukan pola langkah sempurna yang Anda coba atur.”

Memahami nuansa disiplin individu juga membantu memahami tujuan individu. “Ada kesempatan untuk berpikir lebih luas dan berkata, Hei, apakah Anda mencoba untuk memenangkan kompetisi musim ini? Apakah Anda mencoba untuk memenangkan satu acara kompetisi saja? Apakah Anda berusaha melakukan pemulihan dan melakukan hal ini? Apakah Anda berusaha untuk menyesuaikan diri terhadap panas dengan lebih baik?” ungkap Nurse.

Inovasi Kolaboratif

Tujuan individu tidak dapat dicapai tanpa semangat kolektif. Saat Nurse dan Nike Sport Research Lab menarik kesimpulan tentang bantalan, mereka tahu ada tim bahan yang siap melakukan upaya yang sama pada bidang keahlian masing-masing. “Langkah pertama adalah memastikan bahwa kita berada dalam jarak yang cukup dekat untuk melakukan kontak rutin dan sering bertukar ide,” katanya.

Setelah itu, masing-masing tim menciptakan bahasa sehari-hari yang membantu penggabungan berbagai ilmu pengetahuan. “Untuk masalah busa, kami mencoba memahami apa peran kompresi, ketahanan, energy return… semua hal ini menyangkut kinerja. Kami ingin dapat berbagi dengan tim bahan atau tim footwear. Jika Anda memenuhi spesifikasi ini, Anda akan mendapatkan hasil terbaik untuk atlet,” kata Nurse.

Dibuat khusus untuk setiap atlet selama Breaking2, Nike Zoom Vaporfly Elite menggunakan busa Nike ZoomX untuk bantalan responsif dan plat serat karbon full- length untuk meningkatkan ketegasan dan memberikan sensasi dorongan.

Spesifikasi yang ada membantu menentukan rumus NEXT%. Namun, data ilmiah tidak menentukan teknologi yang akan digunakan. Sebaliknya, ini membantu desainer dan insinyur Nike untuk mendorong batasan baru. Ini membantu memperjelas bagaimana interaksi antara stabilitas, traksi, bantalan, dan lainnya memengaruhi seorang atlet ketika menggunakan sepatu tersebut.

“Penelitian inovatif yang menghasilkan Vaporfly yang pertama membuka sudut pandang baru yang belum ada sebelumnya tentang sepatu maraton,” kata Carrie Dimoff, Senior Footwear Innovator. “Setelah kami memahami plat dan busa sebagai sebuah sistem, kami mulai memikirkan cara untuk membuat sistem tersebut menjadi lebih efektif.”

Memanfaatkan Running Economy

Dari 2017 hingga 2020, eksperimen dengan Zoom Air menghasilkan serangkaian prototipe (dihadirkan pertama kali oleh Kipchoge) dan menghasilkan lompatan ke depan yang signifikan dalam desain sepatu lari.

“Kombinasi busa yang sangat tahan banting dan plat yang sangat responsif bekerja sangat baik dengan langkah atlet dan membantu mereka bergerak ke langkah berikutnya,” kata Dimoff. “Saat kami menambahkan Zoom Air, seluruh sistem semakin maju, menjadikannya produk dengan kinerja yang jauh lebih baik.”

Sistem ini tidak hanya mendefinisikan sepatu maraton – ekspektasi telah berubah untuk peralatan, mulai dari lari cepat hingga latihan. Mata tertuju pada membantu atlet seperti Centrowitz, Muir dan Muhammad untuk mencapai potensi baru.

Carrie Dimoff, Senior Footwear Innovator, mendiskusikan prototipe dengan Eliud Kipchoge.

“Penelitian inovatif yang menghasilkan Vaporfly yang pertama membuka sudut pandang baru yang belum pernah ada sebelumnya tentang sepatu maraton.” – Carrie Dimoff, Inovator Alas Kaki Senior

“Peralatan lari adalah bagian penting dari tubuh Anda, karena itulah yang Anda pakai saat berlari,” kata Muir.

Sepatu sebagai perpanjangan fisik adalah tempat di mana desain, teknik, material, sains, dan langkah bergabung. Dengan melakukan perhitungan yang tepat, kecepatan kritis seorang atlet pun meningkat penuh.

“Sepatu ini menempatkan Anda pada ujung kaki Anda, ke posisi kaki Anda yang mungkin membutuhkan usaha lebih untuk melakukan dorongan,” kata Centrowitz tentang sepatu pilihan pertama terbarunya, Nike Air Zoom Victory NEXT%.

Dalam mengurangi upaya yang diperlukan, spike membantu menjaga bahan bakar dalam tangki seorang pelari untuk menghadapi pasang surut 1500 – memberikan Centrowitz gabungan dorongan fisik dan mental melalui peningkatan running economy.

Membayangkan Masa Depan

Bekerja dengan atlet seperti Centrowitz, Kipchoge, Muir dan Muhammad, serta para atlet elit lainnya, telah menempatkan Nike NEXT% secara kokoh ke dalam lanskap kompetitif. Walaupun batasan waktu menjadi bagian dari pencapaian mereka, nuansa setiap disiplin mengingatkan pada sesuatu yang lebih mudah didekati untuk semua pelari: kecepatan dan daya tahan sering kali menentukan tujuan.

Membawa teknik NEXT% ke dalam sepatu training, sama halnya dengan Tempo NEXT%, merupakan gambaran awal untuk mendorong manfaat terukur terlepas dari hitungan stopwatch.

Nike Tempo NEXT%

Membawa teknik NEXT% ke dalam sepatu training, sama halnya dengan Tempo NEXT%, merupakan gambaran awal untuk mendorong manfaat terukur terlepas dari hitungan stopwatch.

“Kami menggunakan busa Nike React pada bagian tumit untuk memberikan perlindungan benturan dan daya tahan yang lebih baik, dan kami menggunakan plat komposit yang tidak terlalu kaku dan dirancang untuk penggunaan sehari-hari,” kata Bignell. “Tujuan kami dengan Tempo adalah membantu atlet mencapai memulai start dengan cara yang lebih baik dan lebih efektif. “

Sepatu ini menjembatani kesenjangan antara para pelari di puncak piramida kinerja dan mereka yang hanya sekedar melampaui rekor pribadi.

“Setiap orang yang ingin keluar dan melakukan sesuatu memiliki tantangan masing- masing dan definisi tersendiri mengenai mana yang lebih baik, dan kita perlu memahami mereka juga apabila kita ingin melayani atlet dalam spektrum yang luas,” kata Nurse.

Dengan melakukan itu, solusi yang muncul mungkin menghadirkan berbagai manfaat baru yang dapat diukur. Waktu lebih cepat? Daya tahan yang tidak ada batasnya? Olahraga tanpa cedera? Siapa yang tahu. Atau seperti yang dikatakan Bignell: “Hal yang terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan tidak membatasi atlet.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here