EXPERD, 31 Tahun Bertransformasi

0
13
Photo by Gustavo Fring from Pexels

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Menyaksikan ulang tahun KOMPAS ke-55, kami di EXPERD berdoa dalam hati agar kita bisa tetap kokoh, kuat dan menjadi tonggak profesi sampai lebih dari 2 dekade mendatang. Merayakan ulang tahun EXPERD ke-31 tahun ini, kami pun berefleksi mengenai apa yang akan terjadi pada EXPERD sepuluh tahun mendatang.

Kita juga menengok ke belakang dan menerawang apa yang bisa kita pelajari dan manfaatkan dari segala pengalaman yang sudah pernah kita alami ini. 31 tahun bukanlah waktu yang sebentar. EXPERD sudah mengalami beberapa pasang surut yang hebat. Krisis ekonomi tahun 1997 sudah kita lewati. Saat ini, kita juga menghadapi masa-masa sulit akibat krisis ekonomi global dan kesehatan yang membuat kita semakin yakin bahwa experience matters, it has value and it is worth paying for.

Pengalaman bisa lewat begitu saja dan tidak berarti. Namun, bagi kami, pengalaman tidak bisa kita abaikan dan menguap begitu saja. Pengalaman kerja yang kita alami berbeda-beda. Ada yang hilang tak berbekas, ada yang kemudian menetap karena ia telah menjadi pembelajaran yang masuk dalam rekam memori individu yang bersangkutan. 

Pengalaman kerja bisa berbentuk action, baik yang sederhana maupun kompleks. Bisa merupakan transformasi yang menyakitkan ataupun menggairahkan. Kata experience sebenarnya berasal dari bahasa latin experientia, yang berarti trial, proof atau experiment.

Dari pengalaman berpuluh tahun inilah emosi kita terdidik untuk menyeimbangkan banyak hal, misalnya antara kognisi dan emosi, antara rasionalitas dan keraguan ataupun kecemasan. Menghadapi situasi baru penuh kebingungan dan kompleks, kita bisa merasakan kembali sensasi-sensasi yang pernah kita alami walaupun tidak sama 100 persen. Situasi ini membawa emosi kita kepada kesabaran dalam mengambil keputusan ketika harus menghitung risiko terlebih dahulu.

Kita pun terlatih untuk menguatkan kemampuan empati kita, kemampuan untuk masuk dalam kehidupan para stakeholder. Kita tahu bahwa empati biasanya terjadi antar-individu, tetapi empati pada organisasi pun sangatlah penting. Bagaimana jatuh bangun organisasi tersebut, budaya yang melingkupinya, yang memberikan energi pada seluruh insan yang ada di dalamnya. 

Dengan demikian, kita mampu untuk cepat beradaptasi terhadap perasaan klien atau rekan kerja. Kita diuntungkan untuk menanggapi masukan orang lain, memahami orang lain, karena kita terbiasa untuk berfokus pada orang lain, bukan diri kita sendiri lagi.

Pengalaman mengajarkan kita untuk cepat membaca keinginan klien dan merancang bagaimana kita bisa bersama-sama mencapai kesuksesan. Dari pengalaman kita tahu bagaimana cara men-size up situasi dan bagaimana menghindari situasi-situasi beresiko tinggi, termasuk risiko emosional.

Ilmu, pakem, SOP yang dipelajari tidak akan bisa menyaingi heuristics: cara pemecahan masalah bermodal self discovery yang menggunakan metode praktis walaupun tidak bergaransi 100 persen efektif, tetapi memadai untuk mencapai tujuan jangka pendek. Rules of thumb akibat pengalaman yang juga sering disebut sebagai tacitknowledge ini adalah modal kerja yang sangat berharga. 

Bila kita mengalami suatu hal baru, jalan syaraf kita bisa menemukan jalur yang lebih pendek akibat adanya heuristics di dalam pemikiran kita. Manakala situasi ini sering terjadi, jalur-jalur syaraf dalam pemikiran kita akan bertambah lurus bagaikan jalan tol. Hal inilah yang membuat pengambilan keputusan menjadi lebih berbobot dan berkualitas.

Pengalaman Membuat Pandangan “Wide Angle”

Dengan kapasitis heuritics pada mereka yang memiliki pengalaman, individu akan mendapatkan modal untuk memprediksi masa depan yang lebih jelas, karena mereka menjadi terbiasa melihat ke depan dengan pengalaman strategic planning-nya. Pengalaman akan membuat orang lebih mudah membuat gambaran masa depan karena memiliki wawasan bagaimana menghindari titik-titik yang membahayakan. 

Jadi pandangan bahwa orang-orang berpengalaman itu sering change resistance, cenderung menolak hal-hal yang baru itu tentunya perlu dikaji ulang.

Kenyataannya mereka lebih bisa mengukur prioritas dan kebutuhan, serta lebih mengenal sumber daya yang dibutuhkan di masa depan dan menghitungnya dengan cermat. Mereka lebih bisa melihat big picture yang merupakan interkoneksi banyak elemen dari situasi yang sedang dibayangkan. 

Ketika pengalaman itu diolah menjadi suatu proses pembelajaran, mereka dapat melihat kapan mereka harus keluar dari kerangka berpikir lamanya, dan mencari hal-hal yang dapat menjadi bagian serta mengisi kesenjangan dari situasi yang dihadapi ini.

Membuat Masa Depan

Merasa bertanggung jawab terhadap masa depan, baik pada institusi maupun sumber daya Manusia Indonesia, EXPERD harus berubah. Kita harus beradaptasi kencang dengan situasi nihil tatap muka ini. Kita pun harus bisa memotong birokrasi dan membangun organisasi yang lentur terhadap perubahan. Kita tidak berhenti belajar, bereksperimen, dan meningkatkan maker’s instinct pada setiap karyawan.

Kita harus tahan hidup dalam dilemma dan bahkan mengubah dilemma menjadi potensi bisnis untuk digarap. Kita sadar bahwa kita tidak bisa berpegang pada kepastian lagi, karena kepastian itu memang tidak pernah datang. 

Kita perlu mengganti mindset dengan upaya konsisten untuk memperjelas gejala apa pun yang kita amati, sehingga kita lebih siap menggarap lapangan yang penuh ketidakpastian ini. Para manajer dan direktur perlu menunjukkan upaya belajarnya, sehingga bisa menginspirasi dan mendorong seluruh individu di organisasi untuk mempelajari hal baru. 

Kemampuan empati kita di masa krisis ini justru menjadi poin penting dan merupakan salah satu unsur competitiveness kita. Empati sudah harus berbentuk bio-empathy yang mendarah daging dalam semua tindakan dan sikap masing-masing individu.

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 26 September 2020