Masa Depan Angkatan 2020

0
10

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Kita tentunya bisa membayangkan betapa kosongnya lapangan kerja yang dihadapi para lulusan tahun 2020 ini. Memang masih ada lembaga-lembaga tinggi negara yang membuka lowongan kerja, namun jumlah lulusan yang jutaan orang ini tentunya jauh melampaui jumlah kebutuhan tenaga kerja baru dari organisasi-organisasi ini. 

Banyak lulusan baru yang frustrasi karena sudah berkali-kali mengirimkan lamaran namun semuanya berakhir tanpa hasil.  

Dengan situasi sekarang, ketika laju penularan masih tinggi dan pembatasan sosial kembali diperketat, keadaan ekonomi serta kesehatan benar-benar semakin terpukul sehingga para lulusan ini pun semakin helpless memasuki dunia kerja. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan dampak kesulitan lapangan kerja ini akan berkepanjangan. Para lulusan benar-benar mengalami kesulitan untuk menggambarkan masa depannya.

Para lulusan 2020 ini pun sudah mengalami perubahan ketika mereka menjalani ujian akhir. Ujian akhir tidak dijalankan sebagaimana mestinya sehingga setiap individu tidak bisa secara optimal menunjukkan kemampuannnya. Angka yang diberikan pada saat lulus bisa dikatakan hampir pukul rata saja. 

Hal ini bagi individu tertentu mungkin merupakan keberuntungan. Namun, ada juga yang merasa terganggu self esteem-nya. Ia merasa tidak bisa meningkatkan employability-nya dengan pembuktian angka-angka di ijazahnya.

Bisa terbayang stres yang dirasakan oleh para pemuda dengan ambisi dan mimpi yang setinggi langit tentang masa depan ini. Kita juga bisa membayangkan tanggung jawab mereka pada orangtua yang telah mengerahkan dana dengan seluruh kemampuannya agar putra-putri mereka mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Harapan bahwa usai kuliah mereka akan bisa melepaskan beban orangtua dan mungkin saja membiayai adik-adiknya. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu para lulusan ini? 

Photo by Fatemeh Mahbob from Pexels

Delapan bulan mendatang akan ada gelombang selanjutnya yang akan menjadi pesaing mereka dalam mengisi lowongan yang tak jelas kapan adanya.

Sering kali, jawaban terhadap masalah yang kita hadapi, perlu kita selesaikan sendiri. Ini penting diingat oleh para lulusan ini. Tampaknya mereka tidak bisa bergantung pada orangtua, pemerintah, saudara atau siapa pun. 

Mereka terpaksa harus menjadikan dirinya seorang yang lebih agile, kreatif, dan mampu berkelit di masa sulit ini. Tidak ada pilihan. MK Gandhi berpesan, It’s the action, not the fruit of the action, that’s important. You have to do the right thing. It may not be in your power, may not be in your time, that there’ll be any fruit. But that doesn’t mean you stop doing the right thing. You may never know what results come from your action. But if you do nothing, there will be no result.”

“Keep doing things”

Salah satu hal yang paling dihargai dari seorang pelamar adalah pengalaman kerjanya. Oleh Karena itu, banyak yang sering bertanya, pengalaman kerja apa yang mungkin dimiliki oleh seorang fresh graduate? 

Inilah sebabnya, banyak mahasiswa yang memanfaatkan program magangnya baik-baik agar kelak hal ini bisa menjadi nilai tambah yang membedakan dirinya dari saingannya. Namun, saat ini, jangankan pengalaman, kesempatanpun tidak ada.

Kita mungkin perlu mengubah cara pandang kita. Sesederhana apapun pekerjaannya, pasti ada manfaat, ketrampilan, teknik bahkan falsafahnya. Kita tidak bisa menjamin bahwa pekerjaan yang sekarang digarap akan menghasilkan uang banyak. 

Hal yang terpenting bagi lulusan sekarang adalah tidak menyia-nyiakan energinya dengan berdiam diri. Membantu orangtua atau saudara di warung pun bisa membawa kita maju ke arah tak disangka-sangka bila kita bisa mengoptimalkannya dengan membuat berbagai perbaikan. 

Bisa saja kita tiba-tiba mendapatkan ide untuk berwirausaha, ataupun berkenalan dengan seseorang yang mengajak kerja. Bila suatu saat berkesempatan melamar pekerjaan, pengalaman kerjanya ini juga pasti akan diperhitungkan oleh calon pemberi kerjanya. 

Dengan demikian, kita sudah menciptakan program magang kita sendiri.

Hal yang juga perlu dilakukan para lulusan ini adalah networking. Kita perlu mencari kenalan, karena setiap individu yang kita temui bisa membawa peluang. Keterampilan networking ini tidak secara otomatis bisa kita kuasai. Kita perlu mempelajari tekniknya dan melakukannya secara teratur, berkenalan dengan intensif bahkan sampai bersahabat, tidak hanya ke beberapa orang, tetapi juga harus kita lakukan sebanyak mungkin. 

Dengan demikian, nama kita bisa berada di top of mind dari mereka yang membutuhkan.

Dalam era digital ini, dengan mudah kita bisa bergabung dalam komunitas hobi, kegiatan olah raga ataupun budaya tertentu yang bisa kita lakukan secara online. Dari sini kita pun bisa mendapatkan informasi mengenai berbagai kesempatan yang ada. 

Selain merasakan kebersamaan, kita juga bisa saling belajar dan berbagi di komunitas-komunitas yang kita ikuti.

Jaga kesehatan pikiran

There is more to life than mainstream success.” Mungkin di masa mendatang, generasi 2020 akan menjadi pemuda pemudi yang paling kuat. Belum ada generasi, baik babyboomer, gen X, maupun gen Y, yang pernah mengalami situasi sesulit ini. 

Mekanisme fisik, emosi, dan jalan berpikir akan menyesuaikan dengan keadaan asal kita memang memasang kuda-kuda mental dan memperkuat diri menghadapi semua tantangan. 

Mental dan no give up mindset sambil membuka pikiran selebar-lebarnya akan membuat kita lebih bisa kreatif dalam menanggapi situasi ini. Tanpa Covid-19 pun kita bisa saja gagal. 

Oleh karena itu, bouncing back dan belajar dari kesalahan perlu menjadi kebiasaan dan kekuatan kita. Pandemi ini bisa jadi masih panjang, tetapi tidak mungkin situasi akan merosot terus. Akan ada titik balik di mana keadaan akan membaik. Pada saat itu, Anda akan menjadi generasi terkuat yang siap menghadapi tantangan. Don’t give up!

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 19 September 2020.