Growth Mindset Melawan Krisis

0
9
Pexels

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Pernyataan Menteri Keuangan bahwa dalam kuartal ketiga ini kita harus menaikkan pertumbuhan ekonomi untuk menghindari resesi yang lebih dalam, ditanggapi banyak orang dengan pesimisme. Kita pasti merasa overwhelmed saat dilanda krisis seperti ini. Kita belum siap untuk menjalani kehidupan yang keras, setelah kesejahteraan ekonomi yang dinikmati sebelum ini.

Kita perlu menyadari bahwa sikap yang otomatis bisa muncul dalam benak kita ini tidak akan membantu  siapa pun, baik diri sendiri maupun orang lain dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Apakah kita sebetulnya bisa memikirkan alternatif sikap mental yang lebih baik? Suatu sikap mental yang bisa melihat kesempatan dan tantangan di antara himpitan dan tekanan keadaan ini?

“Mindset” memengaruhi kesuksesan kita

Mindset adalah kerangka berpikir kita, yang terdiri dari atas koleksi pemikiran dan keyakinan, yang membentuk jalan pikiran, logika, perasaan dan akhirnya tingkah laku kita. Mindset menentukan bagaimana kita menyikapi tantangan dan berdampak pada keputusan-keputusan yang kita buat sehingga tentunya menghasilkan dampak positif ataupun negatif dalam hidup kita. Mindset itu seperti otot, bisa dilatih dan dibentuk.

Psikolog Carol Dweck membuat studi mengenai bagaimana orang mempersepsi dirinya dan bagaimana pandangan tersebut mempengaruhi kekuatannya dalam menghadapi tantangan. Ia membedakan antara fixed mindset dan growth mindset.

Orang dengan fixed mindset, sering menghindar dalam menghadapi tantangan berat, karena belum-belum sudah merasa tidak sanggup. Sementara itu, mereka dengan mentalitas growth memiliki kemungkinan besar untuk menjadi lebih sukses pada kemudian hari.

Dalam membuat rancangan survival di negara ini, semua orang membicarakan strategi finansial, social, dan ekonomi. Namun, manusia sebagai pelaku utama dari strategi seperti terabaikan. Dengan growth mindset, seyogianya kita bisa berpikir kembali mengenai praktik-praktik apa yang bisa kita perbaiki, juga kesenjangan yang bersumber dari kesalahan mindset.

Menanjak tinggi setelah mengalami keterpurukan

Kita tahu peribahasa pelaut ulung tidak lahir dari ombak yang tenang. Berdasarkan pemikiran ini, kita bisa memandang resesi sebagai sebuah ujian. Berbagai kegagalan yang mungkin dialami berserta kesulitan-kesulitannya, menempa kita untuk memikirkan cara lain agar bisa lulus ujian.

Dalam bekerja dari rumah ini, barisan sales berusaha keras untuk menemukan cara menjalin hubungan dengan para pelanggan meskipun terkendala oleh jarak dan mengubah cara pendekatannya, sehingga atasan, pelanggan dan mereka sendiri juga lebih bahagia.

Ada beberapa hal yang bisa kita biasakan dalam keadaan krisis ini:

Pertama, tingkatkan kesabaran. Kita sudah menjalani karantina selama 6 bulan. Namun, mengubah kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun membuat fase ini masih berupa proses penyesuaian diri.

Kita masih harus membiasakan diri dengan rapat dan brainstorming secara virtual. Kita mesti bersabar bahwa hasilnya tidak sama dengan rapat rapat offline. Kita mesti sabar karena implementasi tidak selanjar ketika tidak ada hambatan PSBB. Ini membutuhkan kesabaran dan kesadaran bahwa kita semua masih fase belajar.

Kedua, ajaklah rekan lain mengembangkan growth mindset juga. Satya Nadella yang seorang CEO Microsoft pun pada awal jabatannya menunjukkan bahwa ia masih dalam proses pembelajaran. Ia melakukan sharing tentang apa yang baru dipelajarinya, dan mengajak para kolega belajar bersama.

Dengan sendirinya, keyakinan bahwa apa pun di dunia ini bisa kita pelajari, secara perlahan akan tumbuh dalam benak anggota tim.

Ketiga, kirimkan sinyal-sinyal yang tepat. Seorang pemimpin boleh menuntut bawahannya untuk maju, tetapi ia tetap harus menghembuskan hawa berkembang yang positif pada bawahannya. Ia perlu melakukan tindak lanjut terhadap hal-hal yang sudah disepakati, memastikan agar bawahan benar-benar terdorong untuk bisa menjawab dan belajar bertumbuh di dalam organisasi.

Hal yang berkaitan dengan progres, lesson learnt, perbaikan terhadap kesalahan akan membangun growth mindset para anggota tim.

Keempat, tentukan tujuan dan analis bersama situasi saat ini. Agar beban membangun growth mindset ini tidak selalu ada di pundak pemimpin, pemimpin bisa juga mengajukan pertanyaan kepada anggota tim: “Bila Anda jadi saya, praktik apa yang akan kita ubah?”

Ini tentunya bisa menohok diri kita sebagai pemimpin karena menunjukkan area-area yang belum kita garap. Namun, sikap kita yang bisa menerima masukan dan bahkan menindaklanjuti usulan bagus akan bisa menunjukkan mindset berani berubah yang benar-benar walk the talk.

Krisis ini harus menjadi timing terbaik untuk perbaikan atau bahkan berinovasi. Kita tidak bisa menyalahkan jarak untuk tidak berkoordinasi. Kita justru perlu melibatkan semua orang dalam organisasi untuk melakukan koreksi.

Dengan membuka semua masalah secara blak-blakan, kita mendapat kesempatan besar untuk melakukan perbaikan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Kelima: tetap tingkatkan engagement. Kondisi tim yang terpisah-pisah sering memberi alasan untuk tidak mengetahui keadaan anggota tim. Kita perlu mencari cara kreatif untuk berdekatan secara remote.

Kita perlu mengetahui keadaan keluarganya dan situasi rumahnya. Kita perlu meyakini bahwa ekspresi yang lepas, suasana yang terbuka, akan membuat orang lebih kreatif. Oleh karena itu, kita perlu mengupayakan kebahagiaan setiap individu yang ada dalam tim.

Kita tidak bisa melawan keterpurukan tanpa mental yang kuat. Dalam perubahan kondisi ekonomi dan sosial seperti ini, kita perlu memiliki keyakinan kuat bahwa kita bisa berubah. Kita perlu terobsesi pada pembelajaran, pencarian, penemuan, pengembangan, dan mendorong kiri kanan kita menuju ke arah situasi baru: kenormalan baru yang hakiki. 

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 5 September 2020