Bagaimana Menjadi PR Ideal?

0
69
Gambar oleh Ryan McGuire dari Pixabay

Selalu Relevan di Setiap Zaman

Menjadi seorang public relations (PR) person yang ideal, dirasa perlu memiliki semangat juang yang kuat, agar tetap relevan melintasi setiap zaman. Dalam dialog interaktif Asmono Wikan selaku founder dan Chairman Mas Asmono Wikan (MAW) Talk dengan Ika Sastrosoebroto selaku CEO Prominent PR yang digelar secara live, melalui Zoom, Jumat (19/6), terungkap bagaimana sebenarnya PR yang ideal.

Menurut Ika, “Kendati diakuinya tidak mudah mencari PR yang ideal di sini, tetapi setidaknya, kita berusaha menjadi PR yang relevan di setiap lintasan zaman dan generasi.”

Ideal adalah mereka yang berkarakter kuat seperti memiliki sifat jujur, mau berjuang, dan pembelajar Selain itu, ia perlu memiliki kompetensi yang memadai serta jaringan yang cukup luas.  

Sifat pejuang ditujukan kepada pemilik semangat juang (fighting spirit) yang tidak mudah menyerah apalagi “lembek.” Di zaman yang semakin sulit ini, figur-figur yang berkarakter kuat sangat dibutuhkan di dunia PR. 

Sedangkan soal kompetensi memang penting, tetapi bisa dipelajari. Tentang jaringan sosial, diperoleh dari banyaknya forum yang bisa menjadikan kita mempunyai relasi luas, semacam Linked-in.”

Bekerja dengan Mendengar

Menurut Ika, pekerjaannya sebagai konsultan PR menjadikan ia melihat pekerjaan tersebut seperti “sebuah permainan” yang cukup menantang untuk mencapai goal (tujuan hasil akhir), sehingga tetap perlu berjuang yang dilakukan penuh rasa tanggung jawab. “Dengan menganggap bekerja seperti “games,” tidak akan merasa lelah, tetap asyik, namun perlu perjuangan dan tanggung jawab.”

Itu sebabnya menjadi seorang PR akan lebih banyak mendengar dibanding berbicara, supaya bisa tahu berbagai hal yang terjadi di masyarakat sambil mencari solusinya. Perlu juga mengetahui update teknologi, karena mereka membantu menyelesaikan berbagai keterbatasan manusia. 

Salah satu tips yang Ika bagikan dalam kesempatan talk show adalah bagaimana tetap relevan melintasi perlintasan zaman, dengan meng’NOL’kan pikiran kita, agar dapat memahami hal-hal baru. Sebab kalau diibaratkan dengan gelas, apabila gelasnya sudah setengah terisi, akan sulit juga menerima isi gelas secara penuh. 

Setelah lebih banyak mendengar, berikutnya masuk tahapan komunikasi, karena berkomunikasi bukan hanya menyampaikan pesan tapi harus meyakinkan orang melakukan apa yang kita inginkan sepresisi mungkin dalam jumlah (volume), kecepatan (velocity), ragam (variety), ketepatan (veracity), dinamika (variability) sehingga menghasilkan nilai (value).

Bicara tentang life communication sebenarnya menjadi keahlian praktis yakni bagaimana para praktisi komunikasi melakukan praktek komunikasi dengan semua unsur masyarakat. Sebagai pembelajaran kehidupan, di sini maknanya erat dengan komunikasi kehidupan, karena banyak yang pandai dalam strategi, namun tidak cakap dalam bersosialisasi, kerap terjadi mis-understanding

Komunikasi teknis menjadi kemampuan penting membangkitkan imajinasi dan menguatkan empati sebagai keunggulan manusia. Keunggulan tidak tergantikan yang membuat manusia menyesuaikan diri dan mampu hidup dengan perubahan baru dalam konteks “new normal.” 

Photo by Chris Montgomery on Unsplash

PR di Era Digital

Diakui pada saat ini fungsi pengetahuan dan menghafal banyak diambil alih oleh Google sebagai mesin pencari. Dengan membuka situs Google, maka banyak orang merasa ahli. 

Sementara Google hanya menyajikan data yang butuh diproses dan diolah menjadi informasi, sampai menjadi pengetahuan/ knowledge, lalu jadi insight dan akhirnya menjadi wisdom yang masih perlu dianalisa, sehingga menghasilkan analisa hakiki dan menjadi usulan program. Barulah data tersebut siap di-amplify (diperjelas/ diperkuat) maknanya.

Kerap dengan keberadaan Google, sepertinya kita menjadi bersikap sebagai orang yang memiliki illussion of knowledge, artinya merasa tahu segalanya dengan adanya akses internet ke mesin pencari. 

Padahal harapannya kita semua terlahir untuk menjadi pembelajar dan pejuang. Bukan dengan adanya Google, maka data yang didapat menjadi knowledge dalam analisa yang sesungguhnya, namun data tersebut harus melalui pentahapan diolah sampai menjadi kuat, menjadi data final untuk disajikan. 

Apakah ke depannya fungsi manusia akan tergantikan oleh robot, karena saat ini dunia teknologi semakin mudah diakses, bahkan fungsi mekanis dengan adanya segala inovasi bidang Industry 4.0 kian massif digunakan di segala aspek kehidupan. 

Termasuk di dalam bidang kehumasan (public relations), robot tidak dapat menggantikan manusia dengan pikirannya dan memiliki sosial empati. Kendati sejumlah negara kini mulai mengaplikasikan berbagai pekerjaan manusia yang akhirnya diambil alih oleh robot, sehingga banyak orang kehilangan pekerjaannya, namun kemudian muncul anggapan di mana robot tersebut diberdayakan, agar mampu menghasilkan pendapatan bagi pemiliknya.

Konsep universal basic income (UBI) kini mulai diterapkan di sejumlah negara, di mana negara memberikan gaji dalam jumlah tertentu kepada warga negara untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Biayanya diambil dari pajak yang dipungut dari perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan robot atau mesin-mesin pintar itu.

Diharapkan orang-orang yang peroleh UBI, dapat menggunakan waktu mereka untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, sampai menemukan berbagai pekerjaan baru.  

Maka di sini fungsi PR adalah memperkuat asumsi, teknologi adalah perpanjangan tengan manusia. Dengan adanya socio culture (budaya sosial), maka teknologi juga dapat mempermudah pekerjaan PR. Maka penting bagi PR adanya suatu adaptive mindset.

Talkshow yang ‘Fun’ Tetapi Perkuat Imun

Secara terpisah mewakili salah satu peserta talkshow interaktif yang biasanya diadakan selama satu jam, pada hari Jumat, Asti Rifiana – dari Bagian Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Pekalongan – Jawa Tengah mengatakan, secara umum talkshow ini cukup menarik, dilihat dari tema-tema yang diangkat, tidak terlalu berat dan membuat dahi berkerut, disampaikan secara sederhana sehingga diharapkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari kalangan milenial, para akademisi, sampai para kaum milenial, dapat mengikuti talkshow ini secara fun (menyenangkan).

“Buat kami yang bekerja secara aktif, di tengah keharusan menjaga diri dan berlaku sesuai protokol kesehatan untuk menghindari terjangkit Covid-19, maka saat mencari webinar, kami akan memilih tema yang tidak terlalu sulit dicerna, bahasanya sederhana namun kena pada sasaran, dan yang penting sebagai peserta tidak hanya memperoleh insight, namun wawasan kami juga diperkaya dalam hal pengetahuan komunikasi dan kehumasan, serta dapat memperluas jaringan (network). 

Jadi dengan efisiensi waktu yang ada, tidak perlu datang jauh-jauh menghadiri satu seminar, dengan bermodalkan koneksi internet, walaupun berada di tempat kerja maupun di rumah, kami juga dapat memperoleh ilmu dan memperkaya wawasan.”

Penggagas acara ini Asmono Wikan menyatakan, ia menggelar acara dialog ringan tetapi ‘berbobot’ ini dengan tujuan, agar saling terhubung dan dapat menginspirasi yang lainnya. Jadi dengan tagline “Connecting People, Inspiring Others” maka ia ingin menginspirasi dan meliterasi publik mengenai isu-isu seputar dunia komunikasi, PR, media, dan kepemimpinan. 

Karena itu dengan memanfaatkan platform media daring yang juga menjadi tren saat ini, seiring berlakunya kebijakan pembatasan sosial, sehingga menjadikan aktivitas offline semakin terbatas, acara talkshow interaktif ini menghadirkan dialog yang digelar melalui media Zoom, berisi topik yang dibutuhkan oleh para audiens, bertujuan membangun dialog interaktif bersama publik terkait isu-isu komunikasi, PR, Media, dan kepemimpinan. Termasuk di dalamnya juga untuk membangun jejaring sosial publik dalam ekosistem peminatan isu komunikasi, PR, media, dan kepemimpinan.