Ika Sastrosubroto tentang “The New Normal”

0
24
Photo by Nick Bolton on Unsplash

Saatnya Merefinisikan Tujuan Semula

Ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, Indonesia juga termasuk dalam salah satu negara yang harus mengalami hal yang sama. Dengan status penderita Covid-19 yang jumlahnya mencapai belasan ribu, mau tidak mau ada konsekuensi yang harus ditanggung, yakni mengikuti protokol Covid-19 salah satunya, dengan tetap berada di rumah, untuk menghindari terjadinya kontak fisik, guna meminimalisir semakin banyak jatuhnya korban virus corona.

Untuk itu Nitiya Indriyana, fasilitator XL Future Leaders, PT XL Axiata tbk. berinisiasi menggalang acara ngobrol santai dalam kemasan #5-Untuk Indonesia Bisa – Bincang Santai Bersama untuk Indonesia.

Selama beberapa pekan ke depan dimulai dari Senin, 18 Mei 2020 setiap pukul 15.00 WIB, Nitiya melalui IG Live-nya memandu sejumlah pembicara terkemuka yang merupakan para praktisi di berbagai bidangnya.

“Dimulai dari Senin, 18 Mei 2020, penulis buku Tales of Public Relations sekaligus juga Presiden Direktur Prominent PR  berbincang santai mengenai dunia public relations Indonesia, dan apa saja yang dapat dilakukan para konsultan dan praktisi PR selama harus tetap diam di rumah (stay at home), bekerja dan belajar dari rumah (work and learn from home), serta melakukan berbagai aktivitas lainnya dari rumah,” papar Nitiya.

Di hari selanjutnya bincang-bincang yang berlangsung selama sekitar 30 – 45 menit ini, akan diisi oleh Tantowi Yahya, Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa, dan Kerajaan Tonga.  

Secara regular di jam yang sama di hari berikutnya tampil Yuliandre Darwis Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat periode 2016 – 2019 dan Komisioner KPI Pusat periode 2019 – 2022. 

Setelah itu akan hadir pula pembicara penting lainnya yaitu Vera Makki selaku Communications & Social Impact Advisor, Founder Taman Baca Anak Lebah, VMCS Advisory Indonesia dan President, Int’l Association of Business Communicators – Indonesia Chapter. Pekan ini obrolan ditutup oleh Ridho Nugroho M. sebagai Head of Fashion Beauty Kompas Gramedia. 

Tidak Berubah

Dalam obrolan sore itu, Ika Sastrosubroto yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung dalam dunia public relations mengemukakan, selama masa berlakunya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), yang salah satunya adalah bekerja dari rumah, maka yang berlaku sebenarnya di dalam bisnis komunikasi, adalah ’leaving the new normal,’ sehingga sebenarnya saya lihat dunia itu “praktis tidak ada yang berubah.”

“Karena itu menyikapi keadaan tersebut, kita tinggal meredefinisi apa tujuan dan komitmen kita bekerja dulu, karena dengan demikian akan bisa terlihat krisis yang terjadi di hadapan kita, sebenarnya berpotensi menjadi tantangan untuk mencari solusi.” 

Itu sebabnya kita perlu senantiasa ‘berbaik sangka terhadap segala sesuatu,’ sebab ini erat kaitannya dengan kunci di bidang komunikasi yaitu bagaimana bisa melebur (melting) dengan semua unsur komunikasi, karena dengan demikian maka semua pihak dapat bersama-sama mencapai tujuan yang sama.

“Dengan berbaik sangka bagi segala sesuatu, maka akan dapat mereduksi segala hal yang negatif. Apalagi ketika bekerja dalam tim, maka yang diperlukan untuk saat ini adalah langkah saling menguatkan, terutama saat diadakan evaluasi, apakah memang dirinya masuk ke dalam komunitas yang sudah betul atau yang perlu disesuaikan lagi. Itu sebabnya diperlukan kerja dalam harmonis (sepadan) di dalam mengarungi kehidupan, untuk menemukan berbagai solusi.

Seperti di dalam tim kerja Prominent PR contohnya, yang mereka kerjakan saat ini adalah bersama-sama melakukan restrukturisiasi pikiran, karena kunci komunikasi sebenarnya berkaitan dengan the art of listening (seni mendengar).

Dengan bersama-sama mendengar, maka akan dapat dibangun chemistry yang hilang, selama bekerja sama pada masa sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Secara konkret, di dalam tim kerja yang saat ini masing-masing masih bekerja dari rumah, secara periodik kerap diadakan pelatihan teknik  singkat (short course) seperti misalnya “how to deal with the new client,” atau how to jump wih the press.”

Era Kolaborasi

Saat ini kita sudah berada pada era di mana perlu melakukan kolaborasi dengan semua pihak. Itu sebabnya sebagai bagian dari mengembangkan antara kemampuan, bakat (talenta), dan keahlian akademis, seseorang justru akan mampu tampil sebagai pribadi yang unik, fokus pada tujuan yang ingin dicapai, dikaitkan dengan aktivitas yang dilakukan (apakah masa kuliah atau pada masa bekerja), dan berkomitmen pada kualifikasi yang sesuai tuntutan pemberi pekerjaan atau klien dimaksud. 

Menurut Ika yang sebelumnya juga pernah bergelut di bidang komunikasi periklanan, dalam situasi kehidupan, apakah mereka yang bekerja sebagai PR di satu perusahaan bidang industri ataupun jasa, maupun mereka yang bertindak sebagai konsultan PR, perlu membekali dirinya dengan “kesiapan mental kalah,” karena sejak kecil, manusia kerap hanya dipersiapkan untuk bermental sebagai pemenang, tambah pemegang keahlian sertfikasi NLP (Neuro Language Program) ini. 

Terakhir, dirinya yang lulus dari IISIP Jakarta ini, memberi pesan kepada mereka, para pemirsa yang berpartisipasi dalam acara donasi bagi Dompet Dhuafa ini, untuk selalu belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru yag terjadi di dunia ini, yang dulu masih dirasa aneh (terasa asing) bagi kita. 

Salah satunya adalah dengan beradaptasi mengelola kehadiran kita melalui digital leadership sebagai pemimpin perusahaan, melakukan segala sesuatunya secara digital technology, sambil berinvestasi pada digital asset secara produktif, yang akan menjadi jejak kita dalam beberapa tahun ke depan.