Pameran Seni dan Budaya Kamoro

0
40

Yayasan Lontar menyadari sepenuhnya bahwa pelestarian budaya lokal merupakan landasan penting dalam upaya pembangunan bangsa serta memajukan sumber daya manusia. Keberagaman budaya di Indonesia merupakan sumber daya nasional strategis yang mengedepankan kearifan lokal serta semangat gotong royong dan berperan penting dalam pembangunan Indonesia.

Untuk itu, Yayasan Lontar bekerjasama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia (PTFI) menyelenggarakan “Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman Suku Kamoro” pada Kamis, 5 Desember 2019, di Darmawangsa Residences.

Pameran ini menampilkan seni dan budaya tradisional Suku Kamoro, yaitu Suku yang tinggal di wilayah pesisir Selatan Papua di Kabupaten Mimika dan bertetangga langsung dengan wilayah kerja PTFI. Suku Kamoro dikenal memiliki berbagai kekayaan budaya seperti ritual alam, upacara adat, seni ukir, anyaman, tarian dan hasil kerajinan. Suku Kamoro juga dikenal sebagai suku yang memiliki kemampuan tinggi dalam hal seni ukir.

Berbagai macam bentuk ukiran dipamerkan dalam event ini, mulai dari perisai, dayung, mangkuk sagu, gendang, dan barang-barang sehari-hari lainnya. Mereka juga membuat ukiran khusus yang disebut Wemawe, patung yang berbentuk manusia dan Mbitoro, totem yang dibuat untuk para leluhur.

“Seni dan budaya Suku Kamoro menjadi salah satu potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Mimika. Ukiran Kamoro kini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan ukiran Asmat. Sinergi antar pemangku kepentingan di Timika bagi pengembangan ukiran Kamoro seperti yang dilakukan melalui event ini, dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kamoro,” kata Muhammad Thoha, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Mimika.

Selain pameran, lelang ukiran juga akan diselenggarakan dalam acara ini. Masing-masing karya seni memiliki keunikan tersendiri, dan memiliki kisah di balik ukiran tersebut. “Hasil lelang yang terkumpul akan dikembalikan kepada pengukirnya, dan sebagian lagi akan digunakan untuk program pengembangan dan pelestarian seni budaya Kamoro,” ujar Luluk Intarti Founder Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe.

“Karya seni ukir dan anyam merupakan bentuk penuturan yang dilakukan Suku Kamoro dalam mewariskan budaya dan kearifan lokal ke generasi berikutnya. Karena itu, kami berupaya melestarikan seni ukir dan anyam ini sebagai akar tradisi Suku Kamoro agar pengetahuannya tidak lenyap begitu saja tanpa bekas. Kami meyakini bahwa kearifan lokal ini bisa berkontribusi besar kepada kekayaan pengetahuan secara global,” kata Yuli Ismartono sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Lontar.

Berdasarkan laporan yang dibuat United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) bertajuk “Creative Economy Outlook: Trends in International Trade in Creative Industries”, industri kreatif adalah sektor paling dinamis dalam perekonomian dunia dan menyediakan peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Bahkan berdasarkan data yang dihimpun, nilai ekonomi produk kreatif mengalami pertumbuhan hingga dua kali lipat antara tahun 2002 sampai dengan 2015 dari 208 miliar sampai dengan 509 miliar US Dollar1.

“Kami telah dan akan terus berkomitmen dalam upaya pemberdayaan masyarakat Papua, khususnya masyarakat yang menjadi tetangga terdekat di wilayah operasi kami. Besar harapan kami, melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal ini dapat memotivasi para pengukir untuk dapat terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan. Dengan demikian, mereka juga dapat ikut menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Kamoro dan Kabupaten Mimika secara lebih luas,” kata Tony Wenas sebagai Presiden Direktur PTFI.

“Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Suku Kamoro yang tercermin dalam karya seni dan budayanya ke penjuru Indonesia. Tapi lebih penting dari itu, kami juga ingin memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Suku Kamoro kepada anak-anak muda Papua agar mereka bisa mengetahui asal usul nenek moyang mereka,” kata Herman Kiripi putra asli Kamoro yang menjadi Ketua Yayasan Maramowae Weaiku Kamorowe.

“Karya seni Kamoro menjadi salah satu perekat keberagaman Indonesia, kiranya masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal khasanah budaya Indonesia melalui event ini,” tambah Tony Wenas. Pameran Budaya Suku Kamoro akan dibuka untuk umum selama 2 hari pada tanggal 6 dan 7 Desember 2019.