Kedai Kopi Pilihan KPK

0
374
Photo by Dominika Roseclay from Pexels

Kopi kini bukan sekadar minuman. Tapi si hitam ini mempresentasikan gaya hidup perkotaan dalam satu dekade terakhir. Minum kopi di sebuah coffee shop atau kedai kopi modern menjadi sebuah kebutuhan masa kini, lebih dari sekadar menjaga pergaulan agar tidak ketinggalan jaman.

Coffee shop, juga kafe, bukan hanya venue untuk mengisi perut, tapi juga tempat pertemuan dengan teman dan kolega — bahkan tidak jarang meeting penting pun dilakukan di sini.

Di luar itu, coffee shop yang biasanya dilengkapi dengan koneksi wifi, tidak hanya tempat gaul para mahasiswa dan profesional, tapi juga menjadi pengganti kantor tempat generasi milenial bekerja.

Kendati menu (makanan dan minuman) yang ditawarkan berbeda antar kafe, kopi tetap menjadi minuman favorit yang paling banyak dipesan. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan peminum kopi di Indonesia lebih tinggi (8%) dibandingkan secara global (6%)

Lalu, coffee shop mana yang menjadi favorit penikmat kopi saat ini? “Selain rasa, kualitas roastery, presentasi, asal kopi dan faktor sustainability memegang peranan untuk mengapresiasi secangkir kopi,” demikian pendapat Tintin Irawaty, salah satu founder Komunitas Pencinta Kuliner Plus Plus (KPK++).

Jawaban yang memang subyektif, apalagi soal selera adalah urusan personal. Antara orang satu dengan yang lain tidak sama. Survei kecil-kecilan dan dadakan (tidak hanya tahu bulat) terhadap anggota KPK++, hasilnya ternyata sebagai berikut (berdasarkan urutan terbanyak): Pison, Starbucks, 1/15, Caribou Coffee, Giyanti, Revolve, Upnormal, Kalyan, Common Grounds, Rosso, Seniman, dan Tanamera.

Nyaris semua coffee shop tersebut ada di Jakarta, kecuali Seniman, yang berlokasi di Ubud, Bali.

Well, kalau Anda belum menentukan pilihan, tidak ada salahnya mengikuti rekomendasi, berdasarkan hasil survei di atas. Apalagi, gang KPK++ memang maniak kuliner, termasuk kopi tentu saja, dan hobi mereka memang berwisata kuliner, dan mencoba menu-menu baru.

Kopi Susu Kekinian

Tidak semua orang suka ‘kopi hitam’ ternyata, karena rasanya yang pahit. Maka, menambahkan susu ke dalam minuman kopi adalah hal yang masuk akal. Bahkan, Edward Tirtanata, pemilik gerai Kopi Kenangan, berani memastikan bahwa pasar kopi susu (ditambah gula aren) di Indonesia lebih besar ketimbang kopi plain.

Tidak heran, kedai-kedai kopi jenis ini bermunculan, dan nyaris semuanya laris-manis. Apalagi ditambah dengan kemudahan era teknologi, kopi-kopi kekinian tersebut bisa dengan mudahnya dipesan melalui ojek online. Harganya pun relatif terjangkau.

“Hidup sudah pahit, ngapain juga kopinya juga pahit,” kelakar mereka yang mewakili penggemar kopi susu.

Tren kegemaran masyarakat akan kopi susu kekinian agaknya masih bertahan lama. Buktinya, investor besar seperti Sequoia India, tidak ragu-ragu menyuntik dana sebuah peritel kopi “grab n go” senilai 20 juta dolar AS (atau sekitar Rp 288 milliar) untuk mengembangkan pasar yang lebih global — tidak hanya Indonesia.

Lalu, apa coffee shop yang spesialisasinya kopi susu ini menjadi pilihan anggota Komunitas Pencinta Kuliner Plus Plus (KPK++) ini? Survei sederhana menghasilkan urutan sebagai berikut: Kopi Kenangan, Tuku, Fore, Janji Jiwa, Point by Indomaret, Es Kopi Keluarga by Family Mart, dan Kulo.

Masing-masing orang tentu memiliki alasan. Salah satu anggota KPK++, Virginia Santoso, misalnya, mempunyai pendapat tersendiri mengapa ia memilih Tuku — yang dulu sempat di-endorse Presiden Jokowi, “Menurut saya, kopi Tuku, kopinya tetap berasa, tapi ngga bikin saya meringis kepahitan atau kemanisan.” (Burhan Abe)