Orangtua, Sumber Utama Pendidikan Seksual

0
108
Ilustrasi: Dua Garis Biru

Reckitt Benckiser (RB) Indonesia menggelar survei daringdi kalangan para remaja, pasangan yang baru menikah, dan para orangtua di lima kota besar di Indonesia. Survei ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan lingkungan terbaik bagi generasi-generasi mendatang serta mendukung semua orang untuk lebih memerhatikan kesehatan diri dan keluarga, khususnya untuk meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi bagi seluruh masyarakat Indonesia. 

Data awal mengungkapkan bahwa remaja merasa paling nyaman mendapatkan informasi tentang topik-topik di atas dari teman dan internet, meskipun faktanya banyak konten yang tidak cocok bahkan salah yang mereka konsumsi. 

Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Reckitt Benckiser (RB) Indonesia, melalui merek Durex, memperkuat komitmen perusahaan mendukung keluarga Indonesia untuk berperan aktif dan menjadi sumber informasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi anak-anak mereka. 

  • Perusahaan mendorong para orangtua di Indonesia agar lebih terbuka dengan anak- anak mereka, menyampaikan komunikasi yang lebih asertif untuk mendiskusikan topik- topik tentang seks. Para remaja bisa menjadikan orangtua sebagai sumber paling nyaman untuk membahas hal tersebut (sebagai teman mereka) sehingga mereka dapat berbicara tanpa merasa takut maupun disalahkan. 
  • Memberikan perhatian (respek) pada topik-topik tentang seks di dalam diskusi keluarga sangatlah penting. Hal ini seperti menciptakan rumah tangga yang penuh kehangatan dan rasa saling mencintai di antara semua anggota keluarga. 
  • Orangtua harus sensitif memahami perubahan biologis anak-anak remaja mereka. Para orang tua tidak hanya menyediakan pendidikan tentang seks bagi anak-anak mereka, namun sebaiknya mereka juga menawarkan anak-anak mereka untuk bergabung dalam aktivitas olahraga atau hobi yang dapat membantu mereka mengalihkan hasrat seks mereka. 

RB akan terus menggali informasi mengenai hubungan antara orangtua dan anak-anak remaja mereka untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih lengkap dan tantangan yang dihadapi orang tua dalam mengomunikasikan topik-topik tentang seks dan organ-organ reproduksi. 

  • RB akan bekerja sama dengan Pusat Riset Universitas Indonesia. Riset kualitatif akan diadakan di dua kota besar di Indonesia, yakni Jakarta dan Bandung. 
  • Hasil dari data kualitatif ini akan diumumkan pada Hari AIDS Sedunia, bekerja sama dengan Kementerian Kesehan dan pemangku kepentingan lainnya. 
Photo: Scott Sanker (Unsplash)

Ringkasan#1 – Masa Pubertas Remaja dan Perubahan yang terjadi 

  • Kelompok remaja mengalami masa pubertas mereka untuk pertama kalinya di usia antara 12-17 tahun, dengan total responden yang memberikan jawaban mencapai 84%.
  • Sayangnya, pendidikan seks belum diberikan pada periode usia tersebut. Survei menemukan bahwa pendidikan seksual mulai diperkenalkan pada umur 14-18 tahun. 
  • Ketika para remaja mengalami tanda-tanda awal pubertas, kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadikan orangtua sebagai sumber info pertama untuk berkonsultasi dan membahas pengalaman tanda pertama pubertas. Sedangkan sisanya didominasi sumber info lain, seperti teman/rekan sebaya (25%), internet dan media sosial (15%) dan kakak laki-laki/perempuan (4%). 
  • Seiring berjalannya waktu, ketika para remaja melewati tanda pubertas pertama, mereka merasa lebih nyaman untuk membahas topik-topik tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi dengan teman sebaya/sahabat (41%), diikuti oleh orang tua (24%). 
  • Fakta ini selaras dengan sikap para remaja yang mempercayai orang tua mereka mengenai topik tersebut. Orangtua menjadi sumber informasi terpercaya kedua (26%) setelah praktisi kesehatan/dokter (33%), yang menduduki posisi pertama sebagai sumber informasi terpercaya. Hal ini bisa saja disebabkan karena para remaja merasa takut dihakimi orangtua mereka (61%) jika mereka bertanya mengenai topik ini. 
  • Untuk informasi tambahan, distribusi data berdasarkan kategori gender memberikan hasil bahwa responden remaja laki-laki lebih suka mendiskusikan topik-topik ini dengan teman-teman sebaya mereka (97%). Sedangkan para responden remaja perempuan lebih suka membahas topik kesehatan reproduksi dengan orangtua mereka, baik dengan ibu maupun ayah (35%). 

Mengingat bahwa temuan-temuan riset yang dijabarkan di atas tentang fase pubertas remaja dan bagaimana hal tersebut berevolusi seiring mereka melewai fase tersebut, maka sangat disarankan bagi orangtua Indonesia untuk mengambil kembali peran mereka sebagai sumber informasi utama dalam topik kesehatan reproduksi dan pendidikan seks. Orang tua harus berpikiran terbuka, mengubah cara mereka mendidik dan mengkomunikasikan topik-topik ini, serta menjadi seramah mungkin kepada para remaja agar mereka merasa nyaman. 

Ringkasan#2: Pendidikan Seks 

  • Jika meneliti lebih jauh tentang topik diskusi antara orangtua dan kaum remaja mengenai pendidikan seks, ada beberapa informasi penting yang belum dibahas oleh para orangtua. Yang perlu dicatat, jika para remaja tidak mendapatkan topik-topik ini, mereka bisa menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar di masa depan. Topik-topik tersebut adalah: 
    • Memiliki beberapa pasangan seks dapat menyebabkan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS (48%) 
    • Bagaimana cara melindungi organ reproduksi (46%)
    • Pengetahuan bahwa kehamilan dan pernikahan di bawah usia 20 tahun rentan terhadap berbagai risiko kesehatan (38%).
    • Hubungan seks yang sehat, termasuk penggunaan kontrasepsi secara baik dan benar (24%) 
  • Setelah melewai masa pubertas, para remaja terekspos dan menerima pendidikan seks dan informasi kesehatan reproduksi dari para guru di sekolah (32%), orang tua (32%), dan internet/media sosial (21%). 
  • Apalagi, internet telah menjadi salah satu sumber informasi utama untuk pendidikan seks, di mana hal ini dominan bagi para remaja laki-laki (65%) dibanding para remaja perempuan (35%). 
  • Melihat penetrasi akses internet di Indonesia yang massif, tidaklah mengherankan jika akses internet didominasi oleh daerah Jawa Barat (26%), DKI Jakarta (22%), dan Jawa Timur (22%). 
  • Membahas lebih detil mengenai konten dan medium yang paling nyaman untuk belajar pendidikan seks dan reproduksi kesehatan, para remaja memilih video pendidikan (59%), media sosial (49%), dan sesi daring pribadi di situs web (46%) sebagai konten dan medium yang paling nyaman untuk memahami topik-topik ini. 
  • Sebagai institusi pendidikan, mayoritas remaja (57%) setuju bahwa sekolah secara proaktif memberikan pendidikan serta informasi mengenai seks dan organ reproduksi yang sehat. Sayangnya, 73% responden remaja merasa pendidikan seks dan topik reproduksi yang sehat dari sekolah masih belum cukup. 
  • Hasil survei juga menunjukkan bahwa para remaja belum memilki informasi yang cukup mengenai reproduksi sehat dan pendidikan seks. Hal ini dapat terlihat dari beberap mitos yang dimengerti secara tidak benar oleh mereka. Contohnya: 
    • 54% remaja tidak yakin mengenai hubungan antara posisi hubugan seks secara berdiri dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka percaya gravitasi posisi seks berdiri akan mencegah sperma masuk ke ovarium. 
    • 57% remaja percaya masturbasi bagi mereka yang laki-laki sebelum berhubungan seksual akan mengurangi kemungkinan hamil. 
Pixabay

Ringkasan#3: Aktivitas Seks 

  • Ketika para remaja merasa adanya kebutuhan untuk mengekspresikan dorongan seksual mereka, 60% dari para remaja memutuskan untuk menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, seperti berolahraga dan latihan fisik lainnya. 
    • Bagi para responden perempuan, selain menyibukkan diri, mereka lebih suka untuk menyalurkan dorongan seksual itu dengan fantasi seks dan membahasnya dengan teman sebaya terpercaya mereka. 
    • Sedangkan bagi para responden laki-laki, bermasturbasi dan menonton film porno adalah cara utama mereka untuk mengekspresikan dorongan seks mereka. 
  • Di antara para responden remaja ini, ada 33% yang sudah merasakan aktivitas seks penetrasi, di mana kebanyakan dari mereka (58%) mengalami hal tersebut di umur 18- 20 tahun. Hal ini menjadi seperti urutan, di mana mereka mendapatkan tanda pubertas pertama di umur 12-17 tahun, kemudian menerima pendidikan seks mereka pada umur 14-18 tahun, dan mayoritas dari mereka merasakan pengalaman seks penetrasi pertama mereka pada umur 18-20 tahun. 
  • Mengingat kurangnya pengetahuan di antara para remaja mengenai risiko kesehatan dan kehamilan yang tidak diinginkan. Survei memaparkan bahkan ada rasio 50:50 di antara para remaja yang menggunakan kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual penetrasi.
  • Selanjutnya, untuk mengeksplorasi lebih banyak pengetahuan tentang kondom, hasil survei memperlihatkan bahwa ada perspektif yang berbeda di antara kaum muda dalam hal penggunaan kondom. Sebagian besar remaja memahami pentingnya kondom sebagai alat kontrasepsi, namun mereka setuju jika penggunaan kondom akan membuat aktivitas seksual mereka tidak nyaman. Beberapa temuannya: 
    • 41% remaja menganggap kondom sebagai alat kontrasepsi penting dan dibutuhkan, namun ada 24% dari mereka yang mengganggap kondom penting namun mengganggu kenikmatan dan kenyamanan.
    • Namun, saat aktivitas seks penetrasi, hanya 37% remaja yang merasa kondom penting dan dibutuhkan, sementara 28% dari mereka setuju bahwa kondom penting namun mengganggu kenyamanan aktivitas seks penetrasi. 

Ringkasan#3: Penyakit Menular Seksual 

  • Meskipun masih kurangnya informasi, terutama mengenai penyakit menular seksual, mayoritas remaja (95%) pernah mendengar mengenai penyakit menular seksual. Namun, pengetahuan dan pemahaman mereka baru sebatas pada HIV/AIDS, sementara penyakit lainnya kurang dipahami remaja. Misalnya: Gonorea (33%), Sipilis (38%), Herpesatau HPV (54%), Kandidiasis (57%).
  • Pemahaman dan konsep penularan penyakit menular seksual (PMS) juga kurang dimengerti para remaja. Mereka masih percaya beberapa ifnormasi yang salah dan stigma mengenai para pasien HIV/AIDS, seperti: 
    • 3 dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama pasien HIV/AIDS dapat menularkan PMS. 
    • 55% remaja berpikir HIV dapat ditularkan melalui ciuman.