The Millennial Jack Tarub

0
184

Legenda Lawas dalam Kemasan Milenial  

Memperkenalkan cerita rakyat kepada anak-anak milenial bukan hal mudah. Apalagi di sekolah berbasis internasional. Kenal tokoh atau mendengar kisah tradisional saja barangkali tidak terbiasa. Apalagi memahami pesan yang tersirat dan meminta mereka menyukainya, pastilah merupakan tantangan besar.

Inilah yang dilakukan Ita Sembiring sebagai penulis naskah, sekaligus sutradara lakon drama musical The Millennial Jack Tarub, mengemasnya  secara ciamik perpaduan legenda rakyat dari masa lalu dengan sentuhan situasi kekinian. Dengan cara ikut berperan dalam lakon ini, para siswa bisa mengenal langsung tokohnya bahkan memahami cerita serta pesan kemanusiaan yang terkandung dalam setiap dialog yang harus dihafalkan.   

Cara ini cukup berhasil dalam menumbuhkan kepedulian dan kecintaan akan kebudayaan tradisional yang banyak dimiliki Indonesia. Dengan melibatkan 277 siswa Singapore School Pantai Indah Kapuk dari tingkat Pre School, Primary, Secondary hingga Junior College, termasuk dukungan para guru, karyawan bahkan orangtua murid akhirnya pergelaran musikal ini bisa terselenggara 7 April lalu di gedung pertunjukan megah Ciputra Artpreneur. 

“Tidak mudah, tapi lewat sebuah Proses semua pasti bisa terwujud dan kesediaan kita memberi kesempatan pada tiap orang untuk berkembang dan memperbaiki diri. Kita mengupayakan, Tuhan akan menyempurnakan.  Dalam berkesenian, jangan egois dan undang Tuhan campur tangan dalam setiap langkah,” kata Ita Sembiring yang selalu yakin sabar buahnya subur.   

Tokoh bidadari yang dimunculkan juga cukup unik, di mana tidak mengandalkan kecantikan semata, tetapi lebih menonjolkan ragam karakter tersendiri ala anak milenial yang sengaja diciptakan Ita Sembiring dalam naskahnya. Bahkan sentuhan komedi juga mewarnai pementasan, dimana Jaka Tarub yang selalu bermimpi mendapatkan istri bidadari, digambarkan berkhayalnya  tengah dansa dengan bidadari cantik, tinggi semampai berambut pirang diiringi lagu Perfect-nya Ed Sheeran. Ternyata pada saat mencuri selendang yang terambil adalah selendang merah bidadari mungil berambut hitam kelam.

Tapi begitulah Jaka Tarub yang selalu bersyukur tetap menerima janji bidadari yang tidak bisa kembali ke kahyangan itu sebagai istrinya. Dan Jaka Tarub kembali berdansa secara nyata diiringi lagu Rewrite the Stars. Sepanjang pertunjukan sesekali hadir dua penggosip pria, siswa dari tingkat Junior College, Yoshua dan Thibault yang berdarah Indonesia Perancis, menyegarkan alur cerita.        

Tidak mudah mengarahkan begitu banyak pihak dari beragam karakter dan usia. Apalagi pertunjukan ini tersaji dalam perpaduan bahasa Inggris, Mandarin dan Indonesia. Belum lagi upaya menghadirkan suasana milenial dengan memadukan unsur musik klasik, tradisional dan pop dengan iringan live orkestra para siswa SISPIK, digawangi Eki Satria. 

Istimewanya lagi, selain melestarikan cerita rakyat di antara generasi milenial dengan kiblat internasional, hasil perhelatan seni ini juga bertujuan membantu kehidupan dan pendidikan siswa lain yang kurang beruntung di sudut Indonesia lainnya. Seluruh hasil pertunjukan dipersembahkan bagi kegiatan amal melalui organisasi nirbala sekolah, Yayasan SISwa Peduli Bangsa (YSPB). Perwakilan dari pendiri SISwa Peduli Bangsa, Hans Kasim mengatakan, “YSPB bercita-cita meningkatkan akses pendidikan di seluruh Indonesia sehingga bisa mensejahterakan juga anak-anak di daerah pedalaman.”  

“Berkesenian sambil beramal adalah perpaduan menarik demi membangkitkan gairah peduli kemanusiaan. Kita bisa berbuat banyak bagi sesama, tidak hanya dengan meminta pada orang lain, tetapi juga ikut mempersembahkan apa yang kita miliki,” kata Ita Sembiring didampingi tim kecilnya, Paulus Simangunsong jebolan Teater Koma, dibantu para koreografer muda Rike Elystya, Virginia dan Alex

Sang Sutradara, Ita Sembiring

Kiranya persembahan para siswa SIS-PIK ini bisa menginspirasi orangtua, generasi muda dan dunia pendidikan Indonesia dalam menyeimbangkan antara kepadatan kegiatan akademik dengan non akademik serta memanfaatkan kegiatan ekstra kurikuler sekolah menjadi wadah ekspresi diri bahkan bisa membantu banyak pihak yang kurang beruntung. (Putri Wijaya)