Ketika Pelangi jadi Satu Warna

0
516

Perempuan Batak pun jadi Papua

Apa jadinya kalau pelangi yang seyogyanya warna warni menjadi satu warna. Berarti ada toleransi dalam keberagaman!

Itulah yang tergambar dalam drama musikal besutan Rm. Steve Winarto dari Keuskupan Agung Jakarta yang dipentaskan 3 dan 4 November 2018 di Ciputra Artpreneur. Berawal dari kisah keluarga Cina, Jawa, dan Papua, hidup rukun bertetangga namun tiba-tiba dikacaukan para penguasa pembebasan lahan diperankan stand up comedian Mosidik bersama aktris lawas serba bisa Niniek L. Karim.

Kedua penguasa beserta kaki tangannya berhasil memecah tiga keluarga bersahaja. Terutama keluarga Papua, di mana anak sulungnya berhasil terbujuk lewat preman bayaran hingga merusak ketentraman keluarga juga warga.

Sekalipun drama ini sarat konflik tajam, namun humor segar mendominasi pertunjukan. Bisa jadi efek dari pemeran Pak Boli yang terpramen itu John Yewen, komedian asal Papua. Sementara Bu Boli diperankan Ita Sembiring, perempuan asli Batak. Dialog-dialog spontan tanpa skrip meluncur begitu saja saat pertikaian di keluarga Papua terjadi.

“Sesungguhnya saya kan orang belakang layar. Ini pertama kali tampil di panggung drama. Jelas ini tantangan berat karena harus siaga dan sigap melempar balik dialog Yewen yang memang komedian. Sering tidak terduga improvisasinya. Sementara untuk saya dari awal di naskah pun tidak ada dialog,” demikian Ita Sembiring yang tampil ciamik dengan dialek Papua fasih. Menurutnya bukan hal mudah menyambut improvisasi Yewen yang begitu spontan dan dadakan belajar beberapa potongan kalimat Papua di belakang panggung.

Ita Sembiring memang tampil hanya sesekali, tapi setiap kemunculan dan berdialog,  tawa penonton langsung pecah. Tampaknya keluarga Papua dalam drama musikal Pelangi1Warna malam itu jadi keluarga favorit penonton. Selain karena akting dan dialog spontan yang  segar, juga properti rumah di panggung kerap jadi sasaran improvisasi Pak dan Bu Boli.

Dari sekadar peran istri pelengkap, toh akhirnya Ita Sembiring telah memukau penoton dan memecah tawa dengan dialog yang ditemukan sendiri saat jelang pementasan.

Apalagi setiap melihat keluarga ini harus keluar susah payah dari pintu kecil rumah model Papua. Jelas sekali dengan postur tubuh Ita yang lumayan padat itu harus berjuang muncul ke panggung lewat pintu kecil. Tapi dengan cerdas Ita malah menggunakan situasi sebagai bahan dialog dan lagi-lagi membuat suasana ‘pecah’ gelak penonton.

Seturut penuturan Ita Sembiring, awalnya dia hanya tampil sebagai pendamping pak Boli. Menerima tawaran sedikit terpaksa karena Romo Steve sang sutradara belum menemukan pemain Bu Boli. Itupun dengan janji muncul sekilas di scene pembuka dan tanpa dialog. Sekadar informasi keluarga Papua utuh.  Tetapi dalam perjalanan latihan, kemunculan Bu Boli bertambah sering seturut kemunculan Pak Boli yang nota bene ayah dari pemeran utama.

“Saya nggak bisa akting, apalagi menari ala kekinian seperti di panggung tadi. Jadinya sering bolos latihan berharap dipecat dan tokoh Bu Boli dihilangkan. Saya tahu sutradara juga sudah kesal karena saya nggak bisa apa apa, tapi entah kenapa peran saya tetap dipertahankan,” imbuh ita.

Pengakuan di atas juga diamini pemain lain yang menyaksikan selama latihan Ita selalu diam, kaku bagai patung. Itupun hanya 6 kali kehadiran. “Pasti pemain lain, pemusik, penata kostum, bahkan pelatih gemas dan kesal lihat saya bego banget tiap latihan. Kehadiran saya nggak penting banget dan diam saja. Padahal saya bersedia mainpun karena lihat di skenario tidak tertulis dialog buat saya,” ceritanya lagi sambil terbahak.

Dari sekadar peran istri pelengkap, toh akhirnya Ita Sembiring telah memukau penoton dan memecah tawa dengan dialog yang ditemukan sendiri saat  jelang pementasan dan berhasil mengimbangi permainan para pelaku seni lain seperti Niniek L. Karim, Mosidik, Widi Dwinanda, Christian Reinaldo dan Yewen dengan latar belakang suku agama dan karakter berbeda sebagaimana warna pelangi. Dan malam itu semua perbedaan jadi satu dalam drama musikal Pelangi1Warna.

Ketika ditanya apa kiatnya bisa tampil prima dan di luar dugaan, sama sekali beda selama proses latihan? Begini katanya: “Sebelum masuk panggung, saya cuma bilang: Tuhan kuasai mulut, hati, pikiran dan seluruh jiwa ragaku, semua yang kami lakukan  demi kemuliaan Tuhan saja dan semoga menjadi berkat bagi tiap orang. Rileks dan percaya, Tuhan ijinkan semua ini terjadi.”

Kesenian memang bisa membuat segalanya indah!

(Penulis: Nery)