Bohemian Rhapsody, A Homosexual Story

0
145

Bohemian Rhapsody adalah sebuah film biografi tentang band rock Inggris, Queen, yang berfokus pada kehidupan penyanyi utama Freddie Mercury yang mengarah ke penampilan Live Aid Ratu di Stadion Wembley pada tahun 1985.

Ada kritik bahwa film Bohemian Rhapsody terlalu mengumbar sisi homoseks (biseks) Freddie Mercury (diperankan oleh Rami Malek). Secara substansi itu benar. Film ini memang cukup gamblang menggambarkan sisi seksual penyanyi legendaris itu. Tapi bagi saya itu sama sekali bukan sesuatu yang patut disesali.

Suatu hari saya bertemu teman lama yang kini bekerja dalam proyek pendampingan untuk kelompok-kelompok minoritas. Salah satu dari kelompok itu adalah waria. “Mereka tidak hanya harus berjuang untuk diterima masyarakat.  Mereka harus berjuang keras untuk menerima diri mereka sendiri,” kata teman saya itu. Bagi saya penjelasan itu adalah sebuah tamparan atas kesadaran saya. Saya tidak pernah berpikir tentang LGBT dengan sudut pandang itu.

Rami Malek memerankan Freddie Mercury

Banyak orang mengira mereka itu semata orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu belaka. Kenyataannya, mereka justru terbebani oleh perbedaan pada diri mereka. Mereka dianggap pendosa yang dilaknat Tuhan. Tapi tidak sedikit yang meratap berharap mendapat ampunan Tuhan, atas sesuatu yang sebenarnya tak spenuhnya bisa mereka pilih.

Itu yang saya rasakan sepanjang menonton film ini. Dulu saya membaca bahwa Freddie Mercury itu hidup hedonis, penuh pesta seks. Faktanya memang begitu. Tapi dalam film ini digambarkan betapa dalamnya cinta Freddie pada Mary Austin (Lucy Boynton), gadisyang ia cintai sejak ia bukan siapa-siapa. Mary menjauh saat mengetahui ada yang berbeda pada Freddie. Tapi ia pun tak pernah bisa benar-benar menjauh. Ia mencintai Freddie.

Saat tahu soal orientasi seksual Freddie, ia berkata,

“Mary, I love you but I need a space… Mary, I love you but I love others…The worse part of it, it is not your fault…”

Lucy Boynton sebagai Mary Austin

Mary Austin mengingatkan saya pada sosok Joan Clarke yang mendampingi si jenius Alan Turing dalam film Immitation Game. Joan mencintai Turing, meski tahu Alan seorang homoseks. Saat Alan berterus terang, Joan dengan ringan menerimanya.

“So what? I had my suspicions. I always did. But we’re not like other people. We love each other in our own way, and we can have the life together that we want. You won’t be the perfect husband? I can promise you I harboured no intention of being the perfect wife. I’ll not be fixing your lamb all day, while you come home from the office, will I? I’ll work. You’ll work. And we’ll have each other’s company. We’ll have each other’s minds. Sounds like a better marriage than most. Because I care for you. And you care for me. And we understand one another more than anyone else ever has.”

Kebingungan soal orientasi seksualnya membawa Freddie tersesat dalam hidup yang hedonis bersama bekas manager sekaligus partner seksualnya, Paul Prenter. Itu membuat hubungannya retak dengan tiga teman bandnya, Brian, John, dan Roger. Queen nyaris bubar. Akhirnya Freddie sadar bahwa ia tak bisa hidup tanpa ketiga temannya itu, dan tanpa Mary.

Sebelum konser Live Aid di Wembley, Freddie sudah tahu bahwa ia mengidap AIDS. Ia juga memberi tahu teman-temannya. Ia bertekad untuk mengisi sisa hidupnya dengan menjalani takdirnya, seorang entertainer.

Sebelum berangkat ke Wembley, Freddie pamit kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang tadinya mencela hidup anaknya, akhirnya memahami takdir anaknya. Freddie pamit kepada ibunya. Ia membuka konser dengan lagu Bohemian Rhapsody.

Mama, life had just begun

But now I’ve gone and thrown it all away

Mama, ooh, didn’t mean to make you cry

If I’m not back again this time tomorrow

Carry on, carry on as if nothing really matters

Too late, my time has come

Sends shivers down my spine, body’s aching all the time

Goodbye, everybody, I’ve got to go

Gotta leave you all behind and face the truth

Mama, ooh, I don’t want to die

I sometimes wish I’d never been born at all

Puluhan tahun menjadi penggemar Queen saya gagal menangkap makna lirik lagu di atas. Di film ini saya temukan maknanya. Itu adalah “lagu pamitan” Freddie kepada ibunya. Ia sendiri bahkan mungkin tidak menyadari makna itu saat menulis lagu itu belasan tahun sebelum konser Live Aid itu.

“……body’s aching all the time…”

Saya bisa ikut merasakan penderitaannya akibat AIDS, sampai ia mengatakan, “I wish I’d never been born at all”.

Freddi Mercury meninggal di usia 45 tahun. Usia yang bagi saya sekarang terlalu muda.

(Hasanuddin)