Kolaborasi Orkestra Ocas dan Sanggar Pedati di ‘Palu Salonde Percussion’

0
73

Bangun Amphitheatre di Hutan Kota Saombona, Kota Palu akan jadi Kota Budaya

MEMBUKA perhelatan musik tradisional Palu Salonde Percussion, orkestra OCAS dari Asturias Spanyol berkolaborasidengan Komunitas Musik Pedati, sebuah sanggar musik tardisional di Taman Hutan Kota Kaombona. Kedua kelompok musik dari latar yang berbeda berhasil membuat takjub masyarakat kota Palu, khususnya saat lagu Sampesuvu Roa dibawakan dengan alat musik tradisional lalohe dan gimba. Suasana haru semakin terasa lebih istimewanya ketika sekaligus Walikota dan Wakil Walikota Palu ikut berduet membawakan lagu.

Dalam rangkaian Konser Vinculos untuk Indonesia 2018 oleh OCAS di Sulawesi Tengah,5-15 Agustus 2018 yang diusung dalam Program Indonesiana oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, Palu Salonde Percussion dan Festival Vula Dongga akan  menjadi konser tahunan yang melestarikan budaya.

Staf ahli Menteri Bidang Inovasi & Daya Saing, Ananto Kusuma Seta, Ph. D yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan “Kami menghadirkan OCAS sebagai duta yang membawa pesan bahwa Indonesia adalah negara super power dalam bidang kebudayaan.  Mereka melihat dan merasakannya sendiri. Saya berharap MasyarakatPalu bisa memanfaatkan momen ini dalam mewujudkanmisinya, menjadikan Palu sebagai kota Budaya.”

Vinculos konser hadir di Kota Palu untuk pembelajaran kepada masyarakat,supayadapat membuat musik berkualitas, memacu semangat menghidupkan sebuah orkestra

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, DR. Nadjamuddin Ramly, M.Si. menyampaikan, “Vinculos konser hadir di Kota Palu untuk cermin dan pembelajaran kepada masyarakat Palu supaya dapat membuat musik yang berkualitas, ini akan menjadi semangat untuk menghidupkan sebuah orkestra.”

Sementara itu Walikota Kota Palu, Hidayat MSI menambahkan “Hutan Kota Kaombona tahun ini juga akan dibangun ampli theatre yang berkapasitas 1500 penonton dengan luas panggung 35 x 18 meter, nanti akan ada  panggung budaya dan pasar seni untuk masyarakat. Selain itu kami akan membangun beberapa sarana olahraga dan menanam 40.000 pohon endemik Sulawesi Tengah di hutan Kaombona ini.”

Malam itu juga hadir penabuh drum legendaris sekaligus pengagas acara Palu Salonde Percussion, Gilang Ramadhan. Gilang begitu kagum oleh penampilan Ocas dan mengakui apa yang dilakukan Ocas dalam konser Vinculos untuk Indonesia adalah ide cemerlang. Mereka berkeliling dunia dan mengunjungi berbagai tempat,  mempelajari budaya dan musiknya, Gilang lebih jauh mengatakan, “Saya sangat tertarik untuk berkolaborasi salah satu pemain kontra bass dan perkusi dari Ocas untuk project musik Jazz di Indonesia. Semoga bisa segera terwujud.”

Suspirios de Spanya, Ale Vinte de Lavonte, lagu tentang pemandangan di Asturias Utara, disampaikan oleh Anglea Lopez dalam bahasa Indonesia.

Orkestra Ocas dalam konser Vinculos di Hutan Kota Saombona menampilkan 8 lagu yang berhasil membuat masyarakat Palu terhening dan haru, hingga ikut bernyanyi bersama. Lagu yang dibawakan diantaranya adalah Suspirios de Spanya, Ale Vinte de Lavonte: sebuah lagu tentang pemandangan di Asturias Utara, disampaikan oleh Anglea Lopez dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih bahwa ketika Ocas sampai di Kota Palu, pemandangan di sini mengingatkan kota mereka juga dimana ada gunung ada laut. Tidak hanya lagu-lagu Spanyol yang dibawakan, setiap project Vinculos, Ocas selalu berkolaborasi dengan musisi lokal. Kali iini mereka berkolaborasi dengan Pedati yang terdiri dari 7 orang, musik yang digunakan adalah gitar yang dipetik karamba, gimba (Alat musik pukul) dan lalohe (Alat musik tiup, semacam suling). Ketika mereka bermain lagu lokal berjudul Sampesuvu Roa, alunan musik Lalohe menghipnotis penonton.

Koordinator dan pakar musik tradisional Palu, Smiet Ilyas Abdulhamid mengatakan “Lalohe adalah alat musik sakral untuk menyembuhkan penyakit, sekarang kami angkat menjadi alat musik tradisi yang harus dilestarikan. Permainan orkestra Vinculos Ocas dan Pedati tadi begitu menyatu, sangat sesuai dengan tema acara ini Nature and Culture Meeting in harmony.

Para anggota Ocas malam itu mengenakan busana bernuansa hitam. Musisi perempuan diri mereka dengan syal warna-warni bermotif bomba khas Khaili, sementara musisi lelaki memakai ikat kepala Siga, yang begitu kontras. Komposisi lagu-lagu bernuansa gypsy juga dibawakan dan gerakan tarian flamengo yang lentur dan tegas dibawakan oleh Angela Lopez, yang juga menjadi pemain piano dan penerjemah di group Ocas.

Penampilan Ocas diakhiri dengan membawakan lagu Sampesuvu Roa yang dinyanyikan oleh Walikota dan Wakil Walokita Palu yang menulis sendiri lagu itu. Angin yang berhembus perlahan di antara pepohona di Hutan Saombona membuat penonton terbius dengan alunan musik orkestra yang begitu indah.