Indonesia bisa jadi negara pengimpor kopi?

0
427

DARI judul di atas kok rasanya nggak mungkin ya. Tanah yang dipunyai Indonesia sangat luas.

Di beberapa daerah kopi bisa tumbuh subur dan satu lagi: rasanya enak. Padahal, jenis kopi yang ditanam di sini hanya dua, Arabika dan Robusta. Tapi, yang membedakannya, meski bibit atau tanamannya sama namun rasa kopi di beberapa daerah di sini berbeda. Taruh saja misalnya: Kopi Sidikalang, Bajawa dan Toraja.

Tapi, yang mesti diperhatikan adalah kontinuitas produksi kopi di sini yang cenderung stagnan. Padahal, konsumsi kopi nasional sekarang meningkat pesat. Demikian kata Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Dalam acara “Gathering  dan Roundtable Discussion tentang Strategi Kebijakan dan Program Pengembangan Kopi Indonesia untuk Merespons Kebutuhan Agroindustri Kopi Global”, Rabu (8/8), Menko Darmin mengemukakan, konsumsi kopi nasional cukup pesat dalam lima tahun terakhir, 8,8 persen per tahun. Tapi, tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi yang cenderung stagnan bahkan negatif, rata-rata minus 0,3 persen per tahun. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kopi di Indonesia adalah masih kecilnya lahan kebun lopi yang digarap petani.

Dari data terakhir, kebun kopi yang dikelola keluarga petani di Indonesia baru seluas 0,71 hektar per keluarga untuk jenis robusta dan 0,6 hektar untuk jenis arabika. Seharusnya yang ideal dalam menggarap kopi, petani harus memiliki lahan 2,7 hektar per keluarga.

Selain itu, dari sisi produktivitas kopi di Indonesia terhitung masih rendah. Padahal, potensi untuk optimalisasi  produksi masih cukup besar. Produktivitas kopi petani kini sekitar 0,53 ton per hektar dari total potensi sebesar 2 ton per hektar untuk kopi robusta dan 0,55 ton per hektar dari total potensi 1,5 ton per hektar untuk kopi arabika. Adanya permasalahan tersebut berimplikasi pada kemampuan finansial petani untuk modal memperluas kebun.Untuk itulah intensifikasi dan peremajaan kebun sangat terbatas, sehingga produktivitas rendah.

Kebun kopi yang dikelola keluarga petani di Indonesia baru seluas 0,71 hektar per keluarga untuk jenis robusta dan 0,6 hektar untuk jenis arabika.

Sementara bila dilihat data International Coffee Organizatoin (ICO) hingga akhir Juni 2018, komoditas kopi global mengalami defisit dalam beberapa tahun terakhir.  Persisnya, defisit 1,36 juta karung pada 2017. Kondisi itu sejatinya bisa jadi peluang bagi Indonesia mengambil bagian dalam level nasional hingga global. Terlebih, Indonesia sudah memiliki 21 jenis kopi yang dikategorikan sebagai coffee speciality dan memiliki sertifikasi Indikasi Geografi dari Kementrian Hukum dan HAM sebagai produk berkualitas dan spesifik.

Sayang memang. Potensi besar yang ada pada kopi nasional belum digarap secara optimal.  Hasil dari diskui tersebut memang patut ditindaklanjuti. Kalu tidak,  tidak menutup kemungkinan dua sampai tiga tahun dari sekarang Indonesia  malah jadi importir kopi.  Perlu langkah strategis untuk perkopian nasional.  (Rian Sudiarto)