Minuman Gaul itu Bernama Cafe Latte

0
212
Photo by tabitha turner on Unsplash

SAAT bertandang ke kafe dan berkumpul dengan teman-teman, apa varian kopi favorit Anda?

Sebagian orang lebih memilih cappucino, sebagian lain memilih americano, ada pula yang lebih suka piccolo, atau cafe latte. Apapun pilihan Anda, pastikan memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh Anda. Apa acuan untuk menentukan pilihan yang tepat? Mari simak.

Di kafe umumnya disediakan berbagai pilihan varian cara penyajian kopi. Gaya penyajian internasional yang umum tersedia adalah espresso dan segala turunannya. Meskipun di kelas kafe, biasanya kopi tubruk tetap tersedia, walau dengan cara penyajian yang lebih modern.

Untuk keperluan pergaulan, umumnya espresso tidak dipesan sebagai espresso shot. Espresso dikombinasikan dengan berbagai bahan lain, di antaranya susu, susu kedelai, krim, dan cokelat. Espresso diperoleh dengan mengalirkan air panas bertekanan tinggi pada bubuk kopi dengan perbandingan kopi : air = 1 : 5.

Pada dasarnya, cara pembuatan espresso adalah memanaskan air sampai hampir mendidih (suhu 95oC) dan uapnya dilewatkan pada gumpalan padat dari bubuk kopi yang digiling sangat halus. Lama proses ini sekitar 20-30 detik dengan hasil minuman kopi yang kental dan kadar kafeinnya tinggi. Kadar kafein dalam satu shot espresso setara dengan jumlah kafein dalam satu gelas kopi dengan metode standar. Oleh karena itu, penyajian espresso dilakukan dengan ukuran kecil dan umumnya didampingi dengan satu gelas air minum.

Photo by Vova Krasilnikov from Pexels

Salah satu turunan espresso adalah cafe latte. Minuman ini dibuat dengan mencampur espresso dan susu pada perbandingan 1 : 3. Jumlah susu yang lebih banyak menghasilkan rasa minuman kopi yang ringan, dengan rasa dominan gurih dan manis dari susu. Banyaknya jumlah susu dapat menjadi pembeda cafe latte dengan varian lain dalam hal tampilan. Cafe latte sering pula disebut latte saja.

Tak jarang, di kafe modern semua varian espresso yang dicampur susu tersaji dengan latte art di atasnya. Sebaiknya penikmat kopi tidak terfokus pada indahnya latte art, namun salah memilih jenis sajian kopi. Cafe latte yang lebih dominan jumlah susu, tentu memiliki tampilan warna yang lebih pucat dan rasa kopi yang lebih tipis daripada cappucino atau macchiato.

Sebagian orang memilih cafe latte karena memang membutuhkan sajian kopi yang rendah kadar kafeinnya saat menemani mengobrol lama bersama teman. Jika ingin mengulang order karena pertemuan yang berlangsung lama, dosis kafein dalam kafe latte masih cukup aman bagi sebagian besar orang. Namun untuk keperluan membangkitkan semangat kerja di pagi hari, cafe latte bukan pilihan yang tepat. Satu shot espresso yang dapat dikonsumsi dengan dua kali teguk mungkin lebih pas.

Selain berdasarkan keperluan, pilihan jenis varian minuman kopi juga perlu didasarkan pada toleransi kafein tubuh. Seseorang yang toleransi kafeinnya rendah, mungkin akan merasa berdebar-debar setelah mengkonsumsi satu shot espresso. Orang jenis ini lebih baik memilih cafe latte atau maksimal cappucino. Namun seseorang yang toleransi kafeinnya tinggi, akan merasa hambar saat menikmati cafe latte.

Bagaimana mengetahui toleransi kafein tubuh? Jika Anda bukan orang yang terbiasa menikmati kopi atau sebut saja pemula, mulailah dengan konsumsi kopi dengan memilih varian berkadar espresso paling kecil. Anda dapat memulai dengan cafe latte atau variannya (piccolo latte atau magic latte). Jika minuman ini tidak membuat Anda merasa berdebar-debar, pilih varian lain yang kadar espressonya lebih tinggi.