Kopi Tubruk, dari Kopi Sanger hingga Wedang Joss

0
317
Pexels

Bagaimana Cara Penyajian Kopi Favorit Anda?

Masyarakat mengenal berbagai cara penyajian kopi. Di warung kopi tradisional, masyarakat mengenal minuman kopi tubruk. Namun di kafe, kopi disajikan dengan nama espresso, latte, capucino, dan berbagai jenis lainnya. Namun umumnya di kafe sekalipun tetap disedikan kopi tubruk. Apa yang dimaksud dengan kopi tubruk? Siapa pula yang ditubruk?

Kopi tubruk adalah minuman kopi yang dibuat dengan menuangkan air panas pada campuran bubuk kopi dengan gula. Air panas membantu ekstraksi kopi lebih maksimal. Dengan ekstraksi maksimal ini, diharapkan minuman kopi nikmat yang diperoleh juga bisa maksimal. Cara ini membuat sebagian bubuk kopi akan naik ke permukaan. Minuman kopi dapat dinikmati ketika bubuk kopi yang mengapung di permukaan telah turun.

Di tempat minum kopi yang lebih modern, tersedia alat pembuat kopi yang dapat sekaligus memisahkan ampas, misalnya french press. Jadi untuk membuat kopi tubruk modern, lakukan pencampuran dan penuangan seperti biasa, kemudian tuang air panas. Setelah ketiga bahan tercampur rata, pasang tutup dan pastikan posisinya pas dan rapat. Selanjutnya, tekan rapat press sehingga ampas kopi terdorong ke bagian dasar wadah. Proses press ini juga membantu ekstraksi kopi. Hasil penggunaan french press adalah minuman kopi tubruk yang citarasanya lebih kuat daripada kopi tubruk tradisional.

Photo by Lood Goosen from Pexels

Setiap daerah dan negara memiliki cara tersendiri dalam menikmati kopi. Di Amerika, dimana masyarakatnya terbiasa menikmati kopi setiap pagi, kedai kopi telah buka sebelum jam berangkat. Kopi yang akan dibawa ke tempat kerja disajikan dalam gelas kemasan berpenutup. Sebagian besar masyarakatnya menyukai kopi yang dicampur dengan susu pada berbagai perbandingan.

Di Arab, kopi disajikan dengan cangkir kecil. Penyajian kopi cara Arab adalah minuman kopi yang pekat dan rasanya pahit. Masyarakat Arab percaya bahwa kopi akan sangat membantu mereka dalam ibadah. Terutama saat melaksanakan ibadah malam hari.

Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar juga kaya dengan cara tradisional penyajian kopi. Aceh terkenal dengan kopi khop, yaitu cara penyajian kopi tubruk dengan membalikkan gelas kopi di atas piring kecil. Ampas kopi akan terhambat oleh tepian gelas. Bila gelas diangkat sedikit, minuman kopi akan tersaring dan mengalir ke piring kecil. Untuk meminumnya, dapat dilakukan langsung dengan menyeruput dari tepi piring kecil.

Bila cara ini dianggap kurang sesuai, Anda dapat menikmati dengan menggunakan sedotan. Aceh dikenal pula dengan adanya kopi sanger. Kopi sanger dibuat dengan meletakkan bubuk kopi pada saringan kain kemudian dituangi air panas secara perlahan. Hasil ekstraksi ditampung dalam sebuah mug. Ekstraksi diulang beberapa kali dengan cara menarik saringan berkali-kali. Setelah pas, gelas saji disiapkan dan dituangi susu kental manis. Kopi hasil ekstraksi dituang pada susu dan dikocok hingga berbusa.

Di kota Gresik, dikenal kopi kasar atau kopi kopyok. Bubuk kopi yang akan ikut terkunyah saat dinikmati akan memberikan sensasi istimewa menikmati kopi.

Di Yogyakarta dikenal wedang (kopi) joss, yaitu kopi tubruk yang disajikan dengan ditambahi arang yang masih membara dalam minumannya. Di kota Gresik, dikenal kopi kasar atau kopi kopyok. Kopi kasar dibuat dari bubuk kopi yang diperoleh dengan ditumbuk kasar, lalu dituangi air panas. Bubuk kopi yang akan ikut terkunyah saat dinikmati akan memberikan sensasi istimewa menikmati kopi.

Di Ambon dikenal kopi Rarobang. Pembuatan kopi rarobang adalah dengan merebus kopi bersama berbagai rempah-rempah dan gula pasir. Setelah matang, rebusan kopi disaring dan ditaburi irisan kacang kenari.

Dari berbagai cara penyajian kopi, apakah kopi tubruk tetap menjadi favorit Anda? (Burhan Abe)