Masalah perburuhan di perkebunan kopi

0
254

KOPI merupakan salah satu hasil produksi perkebunan. Kopi dapat tumbuh optimal pada lahan di ketinggian 60 sampai 180 meter di atas permukaan laut.

Menanam kopi umumnya tidak dilakukan hanya sebatang, sebab tanaman kopi bukan jenis pohon besar seperti kebanyakan tanaman buah-buahan berumur panjang. Agar diperoleh hasil produksi yang maksimal, kopi ditanam pada lahan dengan kepadatan yang diatur agar dahan kopi dapat tumbuh dengan baik.

Untuk mengurus tanaman kopi di lahan yang luas, pemilik kebun mempekerjakan sejumlah orang. Para pembantu ini bertugas mulai dari menanam, merawat, panen biji kopi, sampai paska panen. Tugas sedemikian banyak ini berlangsung sepanjang tahun, dengan kesibukan tertinggi pada saat panen kopi terjadi di sekitar bulan Mei-Juni.

Saat perbudakan dihapuskan, para pemilik kebun harus mempertimbangkan penggajian para pekerjanya.

Di masa ketika perbudakan masih terjadi, tuan tanah membeli budak untuk membantu mengurus kebun. Budak bekerja sebagaimana buruh perkebunan saat ini. Perbedaan besar hanya pada gaji. Budak tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan tugas yang dikerjakannya. Hal ini karena budak dikategorikan sebagai golongan manusia rendah, sehingga tidak perlu mendapatkan upah yang layak. Majikan berhak memperlakukan mereka seperti hewan. Tak jarang, ketika budak tidak patuh atau bekerja kurang sempurna, ia dilukai bahkan dibunuh.

Saat perbudakan dihapuskan, para pemilik kebun harus mempertimbangkan penggajian para pekerjanya. Namun demikian, mungkin saja terjadi ketidaksepahaman antara pemilik kebun dengan pekerja. Bisa jadi gaji yang diberikan belum sesuai standar, sementara pendapatan pemilik kebun melimpah sebagai efek kerja bagus pekerjanya. Masih ada pemilik kebun yang memperlakukan pekerjanya seperti budak. Hal ini mendorong terjadinya perjanjian penghapusan perburuhan di perkebunan kopi, mengikuti hukum internasional yang mengharuskan dihapusnya perbudakan. Hal ini pernah terjadi di Brazil. Sebagai akibatnya, terdapat beberapa perkebunan yang masuk dalam black list.

Di Indonesia, pada beberapa daerah masih berlaku sikap gotong-royong antar warga. Kegiatan panen kopi dapat dilakukan bergotong-royong secara bergantian, dari satu kebun ke kebun yang lain. Di daerah yang lain, kebun dikelola oleh keluarga. Namun ada pula kebun yang mempekerjakan orang lain untuk membantu mengurus tanaman dan lahan.

Prosedur-prosedur ini memungkinkan petani kopi mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi, sehingga jikapun menggunakan pekerja, mereka bisa dibayar dengan layak.

Saat ini, sebagian besar petani kopi telah menyadari bahwa pemanenan kopi dengan hasil terbaik didapatkan ketika sudah dalam bentuk red cherry (buah sudah berwarna merah). Red cherry mendapatkan harga yang lebih baik karena kualitas biji yang dihasilkannya tinggi. Umumnya kopi tidak matang pohon secara bersamaan.

Selain pemanenan, prosedur pengeringan biji kopi juga telah disosialisasikan untuk dikelola dengan baik. Misalnya tidak dikeringkan dengan cara ditebar begitu saja di atas tanah, tetapi di atas tampah. Dengan pengeringan yang baik, biji kering harganya semakin tinggi. Prosedur-prosedur ini memungkinkan petani kopi mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi, sehingga jikapun menggunakan pekerja, mereka bisa dibayar dengan layak.