Pekerja perkebunan kopi dan kesejahteraan hidup

0
132

SETIAP orang ingin hidup tenang dan sejahtera dalam keluarga. Ketenangan dan kesejahteraan ini bisa dikelola sejak pra berkeluarga. Komponen yang terlibat dalam usaha meraih ketenangan dan keserjahteraan keluarga bukan hanya ayah atau ibu saja. Anak-anak dan lingkungan juga ikut berperan. Keinginan yang sama dimiliki oleh para pekerja perkebunan kopi.

Para pekerja perkebunan kopi adalah jenis pekerja yang biasanya memiliki kemampuan kerja multi talenta. Mereka mengurus tanaman kopi sejak masih berupa bibit, perawatan pertumbuhan, menjaga saat mulai berbuah, memanen biji kopi, pengolahan paska panen, sampai pengangkutan. Tak jarang pemilik lahan juga sekaligus memiliki usaha pengolahan biji kopi, maka pekerjanya semakin tinggi keterampilannya. Dengan pekerjaan sebanyak itu, sudah selayaknya pekerja perkebunan kopi mendapatkan upah yang layak.

Untuk mengejar jumlah patikan buah kopi yang banyak, pekerja miskin ini mengerahkan seluruh anggota keluarganya membantu di lapangan.

Pada beberapa Negara penghasil kopi, sebagian besar pekerja perkebunannya adalah masyarakat yang tergolong miskin. Bisa jadi golongan ini memiliki lahan sendiri, tetapi lahan itu tidak luas, sehingga sekalipun dirawat dengan baik tetap belum bisa mensejahterakan pemiliknya. Golongan pekerja ini umumnya berpendidikan rendah dan memiliki keluarga besar. Dalam melaksanakan pekerjaan, ada pemilik kebun yang memberlakukan sistem upah berdasarkan banyaknya produk yang dipanen. Untuk mengejar jumlah patikan buah kopi yang banyak, pekerja miskin ini mengerahkan seluruh anggota keluarganya membantu di lapangan. Termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak.

Di sisi lain, umumnya para pekerja harus menyediakan sendiri peralatan kerja dan pelengkapan keselamatan yang digunakan. Kondisi di perkebunan, para pekerja rawan diserang oleh ular dan serangga, terutama semut api. Anak-anak dan wanita yang datang secara temporer dan tidak dilengkapi alat pengaman, dapat mengalami kecelakaan kerja. Berbagai kondisi ini membuat banyak organisasi pemerhati hak pekerja resah.

Seiring semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kopi, kini muncul titik cerah bagi para pekerja perkebunan kopi. Di masa lalu, pendapatan pemilik lahan rendah sehingga tidak mampu membayar upah pekerjanya dengan layak. Hal ini karena pengelolaan lahan dan pemanenan masih tidak maksimal. Pemanenan saat kopi masih hijau mempengaruhi harga jual. Kopi hijau masih tergolong kualitas rendah, sehingga harganya juga rendah. Kini para pemilik lahan mulai sadar bahwa red cerry (kopi yang sudah merah) adalah kondisi terbaik untuk dipanen. Harga jualnya juga tinggi, apalagi jika sudah dikeringkan dan dibersihkan. Petani kopi dapat memperoleh pendapatan tinggi.

Seiring semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kopi, kini muncul titik cerah bagi para pekerja perkebunan kopi.

Berbagai inovasi yang dilakukan untuk menambah nilai jual kopi. Contohnya dengan menggunakan kemasan yang unik dan promosi keistimewaan kopi. Maraknya media sosial sangat membantu mensosialisasikan tentang kopi berkualitas tinggi.

Dengan meningkatnya kesadaran pemilik lahan maupun para pekerja perkebunan kopi, kesejahteraan mereka, terutama para pekerja dapat ditingkatkan. Dukungan pemerintah dan perlindungan dari pihak berwenang dapat diberikan agar tercipta kesejahteraan bersama.