Pekerja perkebunan kopi di Borderlands

0
195

MENGHADIRKAN kopi di atas meja ternyata menyangkut proses panjang dan beragam manusia yang terlibat di dalamnya. Setidaknya ada tiga tempat yang dilalui kopi. Perjalanan kopi dimulai dari lokasi pembibitan, perkebunan, dan tempat pengolahan. Tempat pengolahan sendiri masih bisa dibagi menjadi pengolahan buah kopi sampai diperoleh biji bersih kering siap sangrai, lokasi penyangraian, dan tempat penggilingan kopi sangrai menjadi bubuk.

Dalam artikel ini, pembahasan akan lebih berfokus pada pekerja di lokasi pembibitan dan perkebunan di Borderlanda, Colombia yang juga dikenal sebagai Coffeeland.

Pengetahuan dan keterampilan yang terbatas membuat mereka menjadi bagian pekerja yang upahnya paling rendah.

Berbagai penelitian telah dilaksanakan oleh berbagai pihak di lokasi tersebut sehubungan dengan pekerja kopi. Maksud penelitian-penelitian itu untuk mengetahui kondisi nyata para pekerja, hubungannya dengan pemilik lahan, serta kesejahteraan mereka.

Umumnya, para pekerja di kebun kopi adalah orang-orang yang hidupnya paling miskin, pendidikannya rendah, memiliki keluarga besar, bisa jadi mereka memiliki lahan pertanian namun sangat sempit, dan lokasi tempat tinggalnya di pinggiran. Semua kondisi itu memungkinkan mereka mau bekerja apa saja demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Pengetahuan dan keterampilan yang terbatas membuat mereka menjadi bagian pekerja yang upahnya paling rendah.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, sebagian besar pekerja harus menyediakan sendiri perlengkapan bekerja seperti sepatu boot, jas hujan, dan alat kerja lainnya. Dalam masa panen yang bisa berlangsung berbulan-bulan, pekerja tinggal di lokasi perkebunan dalam sejenis mess yang berkesan seadanya. Kebersihan, privasi, sirkulasi udara, dan toilet biasanya tidak menjadi pusat perhatian.

pekerja bahkan harus melakukan MCK di sungai atau di lokasi kebun. Sementara, agar pekerjaan bisa segera diselesaikan, mereka membawa serta keluarga besarnya.

Buruh perkebunan kopi umumnya tidak memiliki asuransi dan serikat pekerja. Mereka dapat menikmati hasil yang layak jika orang yang memberi kerja bersikap baik dan memberi penghargaan tinggi pada para pekerjanya. Namun tak jarang pemilik lahan tidak peduli, sehingga memberikan upah yang tidak selayaknya.

Jika mengikuti hukum yang berlaku, maka ada batas minimum penghasilan buruh yang harus diberikan oleh majikannya. Namun kurangnya pengetahuan para pekerja kebun kopi mengakibatkan mereka menerima saja apa yang diberikan majikannya. Dengan cara ini, kesejahteraan mereka tidak pernah meningkat. Sebagian kebun menggunakan sistem upah sesuai jumlah kopi yang berhasil dipetik. Umumnya untuk mempercepat pencapaian target, pekerja membawa anak-anak dan istrinya.

Untuk mengatasi masalah tersebut dan mencapai pemerataan kesejahteraan bagi rakyat Guatemala, pemerintah setempat membuat undang-undang tentang buruh. Pelaksanaan undang-undang tersebut diawasi dengan ketat, sehingga sedikit demi sedikit mampu membantu mensejahterakan para pekerja perkebunan kopi. Selain pemerintah, berbagai pihak seperti LSM, asosiasi pengusaha kopi, dan dunia pendidikan perlu dilibatkan untuk meningkatkan kesadaran buruh terhadap hak-haknya.